Selasa, 07 Mei 2013

Karya Photographer Fenomenal :P

Posted by Unknown | 5/07/2013 07:32:00 AM Categories:
Sebuah foto yang baik bisa menceritakan banyak hal. Dan seringkali dibutuhkan momen yang pas untuk menghasilkan foto yang bisa bercerita.

Kali ini, apakabardunia kembali menghadirkan kumpulan foto yang dijepret pada momen yang tepat (right moment). Hasilnya pun jadi unik dan lucu. Lumayan untuk penghibur bagi yang mengalami hari berat di kantor, atau kalian yang mumet meghadapi Ujian Nasional.

Kebetulan di belakang rusa ini ada yang sedang mengepakkan sayapnya. Lalu jepreeet!
Seolah-olah kita melihat keturunan Unicorn ?
Manusia berkepala anjing?
Wow, Obama menyalurkan ilmu tenaga dalam atau menangkap matahari?
Ingat dongeng bahwa manusia memperoleh bayi karena dikirim oleh bangau?
Tampaknya foto ini berhasil menerjemahkan dongeng tersebut :)
Mesin cuci yang bosan dengan tugasnya ? :P
Anjing ini sangat pintar mencari tempat buang air kecil.
Bila ini iklan kampanye politik, rasanya jadi pukulan telak, ya...
Lihat roda sepeda ini...
Kupu-kupu dengan pola sayap unik, hinggap di ruang tengkorak mata
dan hasilnya unik, ya :)
Perhatikan pelari berkaos biru di sebelah kiri dan yang paling kanan.
Ekspresi wajah mereka menimbulkan interpretasi yang beragam saat kita melihatnya.
Lihat Celana salah satu pemain rugby ini robek?
Namun lihat reaksi 3 pemain di sebelah kiri...
Tebak, apakah mereka konsentrasi pada bola atau celana tersebut ? :P
 
 
Sumber : Apa Kabar Dunia
Sehat bersepeda sekaligus memperoleh air bersih. Tampaknya itulah tujuan sepeda 'aquaduct' ini dibuat. Slogannya pun begitu jelas, “Kayuh sepedanya, dan saat tiba di rumah Anda dapat meminum air jernih."

Tim desain sepeda ini merancang berdasar kenyataan bahwa sebuah keluarga kecil (empat orang) membutuhkan sekitar 20 galon air sehari untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti minum, memasak, mencuci dan membersihkan.


Lalu bagaimana cara kerjanya? Seseorang akan naik sepeda dengan tangki kosong menuju sumber air dan mengisinya hingga penuh - maksimal 20 galon. Lalu orang tersebut mengayuhnya kembali ke rumah.

Saat mengayuh, terjadi proses peristaltik pompa air di dalam tangki penyimpanan, melalui filter ke tangki ke-2 dan menghasilkan air bersih.

Di muka bumi ini, lebih dari 1,1 milyar orang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan lebih dari 5.000 anak meninggal setiap hari karena penyakit terkait air. Artinya, jika mereka menemukan cara untuk memproduksi massal sepeda ini dengan biaya yang efektif, sedikit banyak membantu masalah kemiskinan, penyakit, serta kelaparan ekstrim.
Sumber : Apa Kabar Dunia

Kamis, 02 Mei 2013

Cerita Sebuah Kata ...

Posted by Unknown | 5/02/2013 08:30:00 AM Categories: , ,
 
Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H

Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM
 
Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
 
Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.


...


Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”

Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.

...

Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.

“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.

Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata. Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”

Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.


...

Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.

...

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.

...

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,

“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.

...

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.

...

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.

...

Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.

...

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.

Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.

…

Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?

...

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’
Nb: Cerita diangkat dari kisah nyata seorang mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan tahun 1433-1434 H. Tulisan ini berhasil memenangkan Lomba Karya Tulis Bebas dan terpilih sebagai Juara Satu dalam acara tahunan Pekilo (Pekan Kegiatan Ilmiah dan Olahraga) UIM 1434 H.
 
Sumber : Serambi Madinah

Memaknai Rezeki

Posted by Unknown | 5/02/2013 08:13:00 AM Categories: , ,
Petani saat bekerja di sawah (ilustrasi).

Oleh : M.Husnaini

Sekiranya ada kata yang begitu akrab di telinga semua orang, itulah rezeki. Tidak ada orang yang tidak mengharapkan rezeki. Bahkan, muara dari hampir setiap usaha manusia adalah mencari rezeki. Pendidikan, kedudukan, dan pekerjaan kerap dimaknai sebagai wasilah menuju rezeki. Sayang, makna rezeki pada sebagian orang telah mengalami penyempitan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rezeki adalah segala sesuatu pemberian Tuhan yang dipakai untuk memelihara kehidupan. Dengan demikian, rezeki bukan melulu makanan dan uang. Masih banyak rezeki yang kita terima bukan berwujud materi atau benda. Bahkan, menurut Rasulullah, “dua nikmat (rezeki) yang sering dilupakan kebanyakan orang adalah kesehatan dan kesempatan” (HR Bukhari).

Dalam hidup ini, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia: rizqi kasbi (bersifat usaha) dan rizqi wahbi (hadiah). Rizqi kasbi diperoleh lewat jalur usaha dan kerja. Terutama jika menyangkut kekayaan dunia, rezeki jenis ini tidak mensyaratkan kualitas keimanan penerimanya. Tidak jarang kita jumpai orang yang ingkar kepada Allah tetapi hidupnya sukses.

Selain sebagai hasil kerja, karena rizqi kasbi memang berasal dari sifat rahman atau pemberian Allah. Rumusnya, siapa mau berusaha, dia akan dapat. Karena itu, rezeki berupa kekayaan dunia tidak selalu mencerminkan cinta Allah kepada pemiliknya. Juga karena kekayaan harta memang tidak bernilai di hadapan Allah. “Sekiranya bobot kenikmatan dunia di sisi Allah seberat sayap nyamuk, maka Dia tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya seteguk air” (HR Tirmidzi).

Lain dari itu adalah rizqi wahbi. Rezeki ini datangnya di luar prediksi pikiran manusia. Kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Pegawai rendahan bisa saja memiliki harta melimpah. Kiai desa yang miskin papa mendadak mendapatkan biaya haji dari pemerintah. Itulah rizqi wahbi. Perolehannya lebih karena sifat rahim atau kasih sayang Allah.

Itulah kenapa yang paling berpeluang mendapatkan rizqi wahbi adalah hamba yang bertakwa. Kesuksesan orang bertakwa itu lebih ditentukan oleh kualitas keimanannya daripada profesinya. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS At-Thalaq: 2-3).

Seolah mengonfirmasi ayat di atas, Rasulullah bahkan menyatakan, istighfar secara rutin dapat mengundang rezeki dari arah yang tidak kita duga. “Barangsiapa melanggengkan istighfar, Allah akan melapangkan kegalauannya, memberikan solusi atas kerumitannya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka sebelumnya” (HR Ibnu Majah).

Tetapi, sekali lagi, rezeki bukan melulu harta. Hidup dijauhkan dari kemaksiatan adalah rezeki. Juga gairah untuk beribadah. Kemudahan menyerap ilmu jelas rezeki. Kesempatan beraktualisasi diri juga rezeki. Dan termasuk rezeki adalah ketika kita dihidupkan dalam lingkungan yang baik. Apalagi memiliki keluarga sakinah. Banyak orang stress akibat ditimpa problem keluarga. Seperti diingatkan Allah, “Wahai orang-orang beriman, sungguh di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka” (QS At-Taghabun: 14).

Ayat di atas jelas menegaskan bahwa istri dan anak potensial membuat hidup manusia merana. Harta yang melimpah tidak mampu menghapus duka ketika badai rumah tangga melanda. Begitu juga ketika penyakit mendera. Hidup kehilangan gairah. Berpenampilan serba mewah tetapi hati selalu berselimut duka.

Mari meluruskan cara pandang. Alangkah meruah rezeki yang telah kita terima. Limpahan rezeki materi itu memang wajib disyukuri. Tetapi sungguh naif ketika bermacam rezeki nonmateri justru kita ingkari. Hanya kepada Allah, senantiasa kita langitkan doa agar diberikan limpahan rezeki berupa harta yang halal, pasangan yang baik, anak-anak yang berbakti, rumah atau lingkungan yang nyaman, dan kehidupan yang bertabur berkah.

Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
Sumber : Republika.co.id

Selasa, 30 April 2013

Jangan Lupakan Tauhid

Posted by Unknown | 4/30/2013 02:01:00 PM Categories: , ,


Masalah tauhid adalah masalah yang sangat penting. Ia merupakan asas tegaknya agama. Muatan utama ayat-ayat al-Qur’an dan misi pokok dakwah seluruh para nabi dan rasul.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Sebuah materi dakwah yang tidak akan lekang oleh zaman dan terus dibutuhkan oleh siapa saja; orang miskin maupun orang kaya, orang tua maupun anak muda, penduduk kota maupun penduduk desa, pejabat maupun rakyat jelata.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Luqman memberikan nasehat kepada anaknya: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Dari ‘Itban bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan api neraka kepada orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas karena ingin mencari wajah Allah.” (HR. Bukhari dalam Kitab ash-Sholah [425] dan Muslim dalam Kitab al-Iman [33])

Dalam suatu kesempatan ceramah, Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah -salah seorang murid Syaikh al-Albani rahimahullah- menasehatkan kepada kita untuk selalu memperhatikan masalah tauhid dan tidak menyepelekannya.

Beliau berkata:

Masalah paling besar yang diperhatikan ulama salaf apa? Bukan amalan anggota badan, akan tetapi [amalan] hati dan ikhlas dalam beramal…

Oleh sebab itu, Yusuf bin al-Husain -salah seorang salaf- berkata, “Sesuatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas…Betapa sering aku berusaha menyingkirkan riya’ dari dalam hatiku, tetapi seolah-olah ia muncul kembali di dalamnya dengan warna yang berbeda.”

Demikianlah, ia mempermainkan hati, terkadang ia berpaling ke kanan atau ke kiri. Sehingga sulit menggapai keikhlasan.

Sahl bin Abdullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa (nafsu) daripada ikhlas. Sebab di dalamnya hawa nafsu tidak mendapat jatah sedikitpun.” Senang dipuji, suka disanjung… Hawa nafsu memang menyimpan banyak keinginan (ambisi)…

Oleh sebab itu, Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Syarat -memurnikan- niat itu sangatlah berat.” Semoga Allah merahmati beliau.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih susah daripada niatku… Karena ia sering berbolak-balik.”

Oleh sebab itu semestinya bagi saudara-saudara kami, saya menasehati diri saya sendiri dan juga mereka untuk terus melazimi tauhid, bersemangat di dalamnya, dan terus-menerus berdoa kepada Allah agar mereka tetap istiqomah di atasnya.

Hendaknya mereka memohon kepada Allah jalla wa ‘ala supaya Allah membantu mereka untuk bisa teguh di atas tauhid, dan memberikan taufik kepada mereka untuk itu…

Masalah ini bukan masalah sepele, saudara-saudara sekalian…

Beliau juga menjelaskan:

Manusia, bisa jadi mereka adalah orang yang tidak mengerti tauhid -secara global maupun terperinci- maka orang semacam ini jelas wajib untuk mempelajarinya…

Atau bisa jadi mereka adalah orang yang mengerti tauhid secara global tapi tidak secara rinci… maka orang semacam ini wajib belajar rinciannya…

Atau bisa jadi mereka adalah orang yang telah mengetahui tauhid secara global dan terperinci… maka mereka pun tetap butuh untuk senantiasa diingatkan tentang tauhid…serta terus mempelajarinya dan tidak berhenti darinya…

Jangan berdalih dengan perkataan, “Saya ‘kan sudah menyelesaikan Kitab Tauhid.” atau mengatakan, “Saya sudah menuntaskan pembahasan masalah tauhid.” atau berkata, “Isu seputar tauhid sudah habis. Sehingga kita pindah saja kepada isu yang lain.”

Tidak demikian…

Sebab, tauhid tidaklah ditinggalkan menuju selainnya…tetapi tauhid harus senantiasa dibawa beserta yang lainnya. Kebutuhan kita terhadap tauhid lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap air dan udara…

Beliau juga menegaskan:

Jadi, tauhid adalah misi dakwah seluruh rasul dan nabi. Ini adalah manhaj dakwah yang tidak berubah.. Dan kita pun tidak boleh merubahnya, dengan alasan apapun. Semisal, kita katakan, “Demi menyesuaikan dengan tuntutan zaman, dsb.” yang dengan alasan semacam itu kita merubah titik tolak dakwah dan mengganti manhaj dakwah.

Atau mengatakan bahwa semestinya sekarang dakwah kita mulai dengan masalah akhlak, atau sebaiknya kita mulai dengan masalah ini atau itu… Tidaklah demikian. Tidaklah kita memulai dakwah kecuali dengan apa yang dimulai oleh para rasul…

Inilah dakwah para rasul dan para nabi yang semestinya kita -semua- menunaikan tugas [dakwah] ini dengan baik; yang seharusnya kita tetap hidup di atasnya dan mati di atasnya pula.

Baarakallahu fiikum.

Sumber: Video al-I’tisham bi as-Sunnah, al-sunna.net
Demikianlah cuplikan nasehat ulama yang bisa kami sajikan ke tengah pembaca sekalian. Semoga bisa menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ta’ala.
Sudah Membaca Al-Qur'an hari ini? Sudah Shalat Wajib pada waktunya ?