Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah dan Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 September 2014

Sejarah Mali, Emas di Tengah Gurun Pasir


Saat ini, Mali dikenal sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Harapan hidup dan angka melek huruf pun sangat rendah. Kekerasan yang dilakukan oleh pemberontak dari suku Tauregs di wilayah utara Mali mengancam negara miskin itu ter-disintegrasi menjadi dua wilayah. Hal ini yang menjadikan Mali kian disorot akhir-akhir ini. Namun Mali memiliki perjalanan sejarah yang tidak selalu negatif dan menyedihkan. Dahulu, Mali adalah contoh konkret dari kesuksesan sebuah kerajaan Islam. Hal itu membuat iri masyarakat dunia. Di sana ada harta karun, sebuah tambang emas di padang gurun.

Geograpi

Mali terletak di sebelah selatan Gurun Sahara. Ada sebuah batas garis yang mencolok di sana; di sebelah Utara terdapat sebuah padang pasir yang gersang dan tandus berbatasan dengan hutan hujan di sebelah selatan. Yang dikenal dengan Sahel.
Rute perdagangan di Afrika
Rute perdagangan di Afrika
Mali sangat minim akan wilayah subur. Penduduk setempat lebih memilih memanfaatkan tanah sebagai lahan tambang barang yang bernilai. Emas dan garam telah menjadi komoditi yang menggeliatkan perekonomian masyarakat Mali selama ratusan tahun. Jalur perdagangan yang saat itu terbentang dari Mali ke pantai Afrika Utara meberikan berkah bagi mereka. Para pedagang di pantai Afrika Utara akan membayar mahal emas dan garam hasil bumi Mali yang kemudian diekspor ke Eropa dan ke Asia Barat atau Timur Tengah. Jalur perdagangan ini sangat menguntungkan dan membuat etnis Mandinka (etnis utama di Afrika Barat) menjadi orang-orang kaya.

Perkembangan Islam di Mali

Di jalur-jalur perdagangan, transaksi tidak hanya pada barang-barang dagangan saja. Pedagang muslim juga membawa Islam selain membawa barang dagangan mereka. Sambil bertransaksi emas dan garam, dakwah Islam juga gencar dilakukan. Dari tahun 700-an dan seterusnya, Islam perlahan mulai memiliki basis di Sahel Afrika Barat. Awalnya negara-negara  non muslim dari Afrika Barat mencoba menghambat penyebaran Islam. Mereka mengupayakan agar Islam tidak masuk di komunitas-komunitas besar dengan cara memisahkan umat Islam dengan komunitas tersebut. Namun upaya itu tidak berarti banyak, Islam semakin diterima masyarakat dan negara-negara muslim pun mulai bermunculan.
Kerajaan Islam pertama di Mali didirikan oleh seseorang yang bernama Sundiata Keita. Ia merupakan seorang tokoh di masanya dan legenda bagi orang-orang setelahnya. Kisah tentangnya terus bergulir dalam kurun abad sejarah masyarakat Mali. Masa yang lama dan daya ingat yang lemah membawa cerita tentang dirinya menjadi kabur dan rancu bahkan cenderung diada-ada. Ada yang mengisahkan bahwa ia memiliki kemampuan luar biasa, bisa mencabut pohon besar seakar-akarnya kemudian di tanam lagi di halaman rumah ibunya. Namun satu hal yang disepakati, dialah pendiri kerajaan Islam pertama di Mali dan memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan populasi umat Islam di Afrika Barat, khususnya di tahun 1230. Dia menyebut raja dengan istilah Mansa dalam bahasa Mandinka.

Mansa Musa dan Perjalanan Hajinya

Mansa kesepuluh Mali adalah Musa I, yang memerintah dari 1312-1377. Dia naik tahta tatkala saudaranya, Mansa Abu Bakar, memimpin ekspedisi melintasi Samudera Atlantik untuk menemukan benua Amerika jauh sebelum Columbus. Kisah paling pemerintahan Mansa Musa menyebar dan banyak diketahui lantaran perjalanan hajinya pada tahun 1324.
Sebagai seorang muslim yang taat, Mansa Musa bersikeras menyempurnakan rukun Islam, yakni rukun Islam yang kelima ibadah haji ke Mekah. Lokasi tempat tinggalnya yang jauh dan terpencil membuat perjalanan spiritual ini dirasa sulit dan mustahil bagi sebagian orang, bahkan di dunia modern saat ini pun masih ada orang yang beranggapan demikian. Pada tahun 1324 Musa berangkat dari Mali dengan rombongan 60.000 orang menuju tanah suci.

Gambaran Mansa Musa dari atlas Eropa
Gambaran Mansa Musa dari atlas Eropa

Dengan image sebagai salah satu kerajaan terkaya di dunia, kafilah ini pun harus membuat kesan yang baik di daerah-daerah yang mereka lewati. 12.000 pelayan Musa menemaninya dalam perjalanan, masing-masing pelayan mengenakan sutra yang mahal dan membawa £ 4 emas. 80 ekor iring-iringan onta berbaris bagaikan mobil-mobil rombongan pemimpin negara di era sekarang. Masing-masing onta membawa antara 50-300 pon serbuk emas. Kemudian didermakan kepada orang miskin di sepanjang perjalanan. Hewan-hewan eksotis dan orang-orang dari semua lapisan masyarakat turut memperkuat kesan “wah” bagi orang-orang yang melihat rombongan ini. Banyak riwayat dan kisah dari berbagai daerah tentang perjalanan ini semakin membuktikan glamornya prosesi perjalanan ini.
Dalam perjalanan menuju Mekah ini, Mansa Musa sempat singgah di Mesir. Namun ia menolak bertemu dengan Sultan Mamluk penguasa Mesir, karena ia enggan melakukan ritual membungkukkan badan untuk memberi hormat kepada sang sultan. Musa tahu hal itu tidak diperkenankan dalam Islam, karena bentuk pernghormatan demikian hanyalah dipersembahkan kepada Allah bukan kepada selain-Nya. Dia membuat kesan cukup mendalam pada jajaran pemerintahan Dinasti Mamluk, para pejabat tersebut kagum dengan pemahaman Musa terhadap Alquran, menjaga shalat di awal waktu, dan kesalehan pribadinya.
Saat di Mesir, Musa memperlakukan orang-orang yang ada di Mesir sama dengan orang-orang yang ia temui di sepanjang safarnya, baik rakyat maupun para pejabat. Ia membagi-bagikan emas kualitas terbaik hasil bumi Mali. Tak disangka, apa yang dilakukan Musa malah berdampak buruk terhadap perekonomian Mesir. Harga emas di Mesir jadi anjlok dan melupuhkan perekonomian Mesir. Satu dekade kemudian (10 tahun), Ibnu Bathutah mengunjungi Mesir, ia mencatat kedermawanan Musa yang kontraproduktif bagi masyarakat setempat, masih terasa. Dari sini kita mengetahui betapa kayanya Mali dan kuatnya perekonomian mereka hingga bisa berpengaruh pada negara lain yang cukup jauh dari wilayah mereka.

Kembali Ke Mali

Dalam perjalanan kembali ke tanah airnya setelah haji, Mansa Musa bersikeras membawa intelektual-intelektual muslim dan orang yang paling berbakat untuk kerajaannya. Dengan kekayaan yang sangat besar, ia berani membayar cendekiawan, seniman, guru, arsitek, dan orang-orang dari semua profesi untuk datang ke Mali dan berkontribusi pada pertumbuhan Islam di sana. Orang-orang hebat dibawa ke Mali dari Mesir, Suriah, Irak, Andalus, dan Hijaz.

Masjid Sankore dan universitas di Timbuktu dengan arsitektur khas Mali

Masjid Sankore dan universitas di Timbukutu dengan arsitektur khas Mali
Kebijakan Musa ini membawa efek yang sangat signifikan bagi perkembangan Mali. Arsitektur bangunan di Mali mulai menunjukkan corak arsitektur Spanyol, Arab, dan Persia. Akulturasi unik ini menciptakan karakteristik baru, gaya Afrika Barat yang masih terlihat pada arsitektur mereka kini. Kota legendaris Timbuktu mendapat perhatian Mansa Musa Haji secara khusus, dengan dibangunnya banyak masjid. Seperti Masjid Sankore yang dibangun oleh arsitek terbaik di dunia, Ibnu Ishaq. Mansa Musa membayar sang arsitek Andalusia itu dengan 200 Kg emas sebagai upah pembangunan Masjid Sankore di Timbuktu. Finansial kerajaan yang kuat, mampu membayar arsitek terbaik, ulama, dan guru sehingga membuat Mali, dan Timbuktu secara umum menjadi pusat pengetahuan Islam.

Pusat Ilmu Pengetahuan

Dampak yang paling signifikan dari program Musa Haji di Mali adalah kerajaan tersebut tumbuh sebagai pusat pengetahuan. Dengan ulama terbaik dari seluruh dunia Islam, Mali mengembangkan salah satu tradisi pendidikan terkaya di dunia pada saat itu. Perpustakaan ada di seluruh kota seperti Gao dan Timbuktu. Perpustakaan pribadi dan umum memiliki ribuan buku tentang materi fiqh Islam, astronomi, bahasa, sejarah, dll. Universitas besar menarik siswa berbakat dari seluruh Afrika untuk datang belajar di wilayah pusat pengetahuan ini.
Tradisi pengetahuan di Mali berlangsung sampai hari ini. Kalangan keluarga masih memiliki koleksi buku di perpustakaan pribadi dengan ratusan buku. Banyak dari buku-buku tersebut sudah berusia ratusan tahun. Orang-orang Mali sangat menjaga pengetahuan yang telah diwariskan dari zaman Mansa Musa, sampai-sampai sangat sulit bagi orang luar untuk mengakses buku-buku di perpustakaan besar.

Manuskrip dari Timbuktu tentang astronomi dan matematika.

Manuskrip dari Timbuktu tentang astronomi dan matematika.
Karena lingkungan mengancam buku-buku tersebut mengalami kerusakan, naskah-naskah kuno ini sekarang diperlihara lembaga desertifikasi dari Sahel. Masalah politik di Afrika Barat juga jadi ancaman yang bisa menghancurkan naskah kuno peninggalan sejarah itu. Karena itu, upaya membuat buku-buku tersebut dalam versi digital sedang diupayakan demi menjaga keberadaannya. Yayasan Pendidikan Timbuktu menjadi lembaga terdepan yang mengupayakan pen-digitalan buku, sebelum buku-buku tersebut punah dimakan usia. Berkat jasa yayasan ini, kita bisa membaca buku-buku tersebut secara online.
Karena Mali menjadi pusat pengetahuan di Afrika Barat, Islam pun memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat setempat. Lumrah, orang-orang biasa bisa menjadi pribadi yang berpendidikan, baik di bidang agama maupun ilmu-ilmu dunia. Efek pengetahuan ini terekam dalam catatan perjalanan Ibnu Bathutah ke Mali pada tahun 1350-an. Ibnu Bathutah mengatakan bahwa jika seorang pria ingin memiliki tempat duduk di shaf masjid saat shalat Jumat, maka dia harus mengirim putranya beberapa jam sebelum shalat dimulai agar ia dapat tempat di ruang masjid, karena masjid akan sangat penuh meskipun masih awal waktu.

Kesimpulan

Pentingnya possi Mali dan kontribusinya pada dunia bukanlah suatu yang dilebih-lebihkan. Dalam sejarahnya, Mali adalah salah satu pusat pengetahuan dan kekayaan Islam. Pengaruh Mali terhadap dunia mulai menurun sejak abad ke-16 hingga 18, sampai datang Prancis menjajah negeri tersebut pada tahun 1800-an. Rekam jejak sejarah ini tidak akan hilang. Hal ini akan terus hidup dalam perjalanan umat Islam di Afrika Barat, dan warisan itu akan tetap ada menjadi sumbangan bagi peradaban dunia.

Allahu a'lam.

Sumber : http://kisahmuslim.com/sejarah-mali-emas-di-tengah-gurun-pasir/

Rabu, 11 September 2013

Cassic street city

Mungkin sedikit orang yang menyadari bahwa istiqomah dalam ketaatan adalah salah satu bentuk dakwah, orang-orang memahami bahwa dakwah hanyalah penyampaian dalam bentuk lisan, tulisan, atau pelajaran. Penulis pernah mendengar salah seorang da’i menyampaikan sebuah kisah tatkala ia berada di Amerika. Da’i ini adalah seorang yang berasal dari Arab Saudi. Tatkala dia ke Amerika dan menjadi pemateri di sebuah pertemuan tak disangka ada seorang pemateri juga berasal dari Arab Saudi namun sudah 40 tahun tinggal di Amerika. Tatkala ia melihat da’i ini, ia pun merasa malu dengan penampilan sang da’i yang sesuai dengan latar belakang Arabnya; memkai jubah dan mengenakan gurtah. Lalu ia menegur sang da’i untuk mengganti apa yang ia pakai karena itu terkesan kuno dan terbelakang, beda dengan penampilannya. Sang da’i tidak menanggapi serius perkataannya.

Yang mengagetkan adalah saat orang Arab Saudi –Amerika- ini melihat sang da’i menunaikan shalat di sela-sela break acara. Ia mulai terenyuh dan mengingat kembali siapakah dia ini sebenarnya. Ketika masjid atau tempat shalat sepi, ia masuk ke dalamnya dan menunaikan shalat sambil menangis tersedu-sedu. Sehabis shalat sang da’i menanyakan apa yang terjadi padanya. Ia menjawab sudah 40 tahun ini aku tidak shalat, dan aku baru teringat akan hal itu ketika melihatmu menunaikan shalat.

Itulah istiqomah dan itulah dakwah, istiqomah dalam ketaatan itu bisa menginspirasi pelaku dosa untuk bertaubat dan berhenti dari perbuatan dosanya.

Sebagaimana kisah berikut ini, seorang pemuda yang shaleh, menginspirasi seorang wanita yang hidupnya dipenuhi kelalaian dan jauh dari nila-nilai ketaatan kepada Allah. Berikut kisahnya…

Dari Ahmad bin Said dari bapaknya, ia berkisah:

Di Kufah terdapat seorang pemuda yang rajin beribadah. Ia selalu ke masjid, tidak pernah tidak. Ia juga seorang yang tampan dan baik. Lalu ada seorang gadis cantik dan cerdas jatuh hati padanya. Selang berapa lama, suatu hari gadis itu berdiri di jalan yang biasa dilewati pemuda menuju masjid.

Gadis itu berkata (untuk merayunya), “Dengarkanlah ucapanku, kemudian setelah itu terserah kamu.” Pemuda itu berlalu tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Sewaktu pemuda itu pulang dari masjid, wanita tersebut masih berdiri di tempatnya, dia berkata, “Wahai fulan, dengarkanlah ucapanku.” Pemuda itu serba salah, lalu ia pun menjawab, “Ini adalah perbuatan yang bisa mendatangkan prasangka buruk. Sementara aku tidak menyukai hal itu.”

Gadis itu berkata, “Demi Allah, tidaklah aku berdiri di sini karena ketidaktahuanku tentang dirimu. Na’udzubillah, kalau orang-orang melihat seperti itu dariku. Yang membuatku berani dalam urusan ini adalah pengetahuanku bahwa sedikit dari hal ini menurut orang-orang adalah banyak, dan kalian para ahli ibadah dalam urusan ini bisa berubah oleh sesuatu yang remeh. Yang ingin aku katakana kepadamu adalah anggota tubuhku selalu tertuju padamu. Maka Allah… Allah pertimbangkanlah urusanku dan urusanmu.”

Maksud gadis ini ia telah lama memperhatikan sang pemuda oleh karena itu ia katakana tujuannya berdiri di jalan tersebut karena tahu dan kagum kepada sang pemuda. Ia berani merayu sang pemuda walaupun orang-orang shaleh seperti pemuda ini menganggap besar dosa-dosa yang diremehkan orang, namun tidak jarang mereka juga tergelincir oleh wanita, gadis itu katakana “kalian ahli ibadah bisa berubah karena urusan yang remeh.”

Pemuda itu pulang dan hendak menunaikah shalat (sunah pen.) di rumah, namun ia tidak bisa melakukannya karena pikirannya terganggu. Lalu ia menulis dan keluar dari rumahnya. Ternyata sang wanita masih berdiri di tempatnya, sang pemuda pun memberikan apa yang ia tulis kepada wanita tersebut, lalu kembali lagi ke rumah.

Tulisan itu berisi, “Bismillahirrahmanirrahim.. ketahuilah wahai Fulanah, jika ada seorang muslim yang bermaksiat kepada-Nya, maka Dia menutupinya. Jika dia mengulanginya maka Allah tetap menutupinya. Tetapi jika ia telah memakai pakaian kemaksiatan, maka Allah ‘Azza wa Jalla murka dengan kemurkaan dimana langit, bumi, gunung, pohon, dan hewan-hewan tidak kuasa menanggungnya. Siapa yang kuat menanggung murka-Nya?

Jika apa yang kamu sebutkan itu suatu kebatilan, maka aku mengingatkanmu akan suatu hari ketika langit seperti luluhan perak dan gunung-gunung seperti kapas. Umat manusia berlutut di hadapan Allah Yang Maha Besar lagi Maha Agung. Demi Allah, aku sendiri tidak mampu menyelamatkan diriku, lalu bagaimana mungkin aku mampu menyelamatkan orang lain saat itu? Jika apa yang kamu sebutkan itu benar (ingin mengobati luka), maka akan kutunjukkan kamu kepada dokter yang mampu mengobati luka yang perih dan rasa sakit yang pedih, Dia adalah Allah Rabbul ‘alamin. Kepada-Nya lah kamu harus berlari dengan permohonan yang benar. Aku sendiri telah sibuk –tak sempat memikirkanmu- karena firman Allah

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat) ketika hati menyesak sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang zalim tidak menyukai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya. Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Dan Allah menghukum dengan keadilan. Dan sembahan-semabahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan sesuatu apa pun. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mukmin: 18-20). Adakah tempat berlari dari ayat ini?

Beberapa hari kemudian gadis itu kembali berdiri di jalan yang dilewati pemuda itu. Tatkala si pemuda itu melihatnya dari jauh, ia pun hendak kembali supaya tidak melihatnya. Tetapi gadis itu berkata, “Wahai pemuda, jangan kembali. Karena tidak ada pertemuan setelah ini, kecuali di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.” Lalu dia menangis dengan keras. Gadis itu berkata, “Aku memohon kepada Allah dimana kunci hatimu berada di tangan-Nya agar memudahkan urusanmu yang sulit.” Kemudian gadis itu mengikutinya dan berkata, “Bermurah hatilah kepadaku dengan nasihat yang bisa aku bawa. Berikanlah wasiat kepadaku yang bisa aku kerjakan.”

Pemuda itu berkata, “Bertakwalah kepada Allah, jagalah dirimu, ingatlah firman Allah, ‘Dan Dia-lah yang menidurkanmu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari’ (QS. Al-An’am: 60). Gadis itu tertunduk, dia menangis lebih keras dari tangisannya yang pertama. Setelah itu dia tidak keluar rumah, dia bersungguh-sungguh beribadah. Dia tetap seperti itu hingga meninggal dalam kesedihan, menyesali dosa-dosanya selama ini. Di kemudian hari, pemuda itu teringat akan sang gadis, ia pun bersedih karena kasihan kepadanya.

Menurut penilaian kita, wanita itu tidak meraih apa-apa dari orang yang dicintainya, tetapi dia meraih sesuatu yang lebih utama dari dunia dan seisinya, ia menemukan jalan yang baik dan amal yang shaleh. Karenanya Allah memberi wanita tersebut taufik untuk bertaubat dan memudahkannya untuk beribadah. Semoga di akhirat dia meraih apa yang diinginkannya dan berkumpul dengan orang yang dicintainya.

Sumber : Kisah Muslim

Senin, 19 Agustus 2013

Perang Mu’tah

Posted by Unknown | 8/19/2013 09:27:00 AM Categories: , , , , ,

kisah pahlawan islam


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendakwahi dan memerangi manusia hingga mereka mengikrarkan kalimat tauhid. Maka kemuliaan bagi yang mengikuti agamanya dan kehinaan bagi yang menyelisihinya.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwah dari kerabatnya yang terdekat dari kabilah Quraisy lalu bangsa Arab secara umum dan siapa saja yang dekat atau datang kepadanya dari berbagai penjuru, maka demikian pula beliau memerangi musuh pertama yang terdekat yaitu kafir Quraisy para penyembah berhala kemudian bagnsa Arab di sekitar Mekah dan Madinah dan lainnya lalu ahli kitab dari bangsa Yahudi di Madinah dan sekitarnya.

Dan sekarang tiba saatnya untuk memerangi bangsa Romawi yang beragama Nasrani dan nanti akan tiba gilirannya memerangi kaum Majusi para penyembah api dan seluruh umat kafir hingga agama Allah tinggi dan jaya di permukaan bumi, di atas semua agama sekalipun orang-orang kafir benci dengan kemenangan Islam. Inilah Islam dan inilah jihad yang merahmati umat manusia dan tidak membiarkan mereka berlarut-larut dalam laknat Allah dengan tetap dalam kekafiran, tetapi Islam mengeluarkan mereka dari kegelapan syirik dan kufur kepada cahaya Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah takjub dengan orang-orang yang masuk surga dalam keadaan diikat rantai besi.” (HR. Bukhari). Maksudnya bahwa mereka tertawan oleh tentara Islam lalu diikat dengan rantai besi kemudian digiring ke negeri Islam dan akhirnya mereka masuk Islam sehingga berbahagia dengan surga.

Dan termasuk hikmah ilahiyyah tatkala orang-orang kafir dari berbagai bangsa tidak bersatu padu dalam satu waktu untuk menyerang kaum muslimin. Tatkala kafir Quraisy memerangi kaum muslimin, maka bangsa Arab lainnya diam menunggu hasil dari Quraisy. Ketika seluruh bangsa Arab dan Yahudi bersekutu memerangi kaum muslimin, maka umat Nasrani diam menunggu hasil peperangan tersebut. Demikian pula tatkala umat Islam berperang melawan Romawi, maka bangsa Persia Majusi diam menunggu hasil peperangan ini hingga semua bangsa dan semua agama ditundukkan oleh kaum muslimin. Firman Allah:

خَيْرًا وَكَفَى اللهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ
Dan Allah memelihara kaum muslimin dari peperangan.” (QS. Al Ahzab: 25)

Sebab Terjadinya Perang Mu’tah

Sebab terjadinya perang ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim surat melalui utusannya, Harits bin Umair radhiallahu ‘anhu kepada Raja Bushra. Tatkala utusan ini sampai di Mu’tah (Timur Yordania), ia dihadang dan dibunuh, padahal menurut adat yang berlaku pada saat itu –dan berlaku hingga sekarang- bahwa utusan tidak boleh dibunuh dan kapan saja membunuh utusan, maka berarti menyatakan pengumuman perang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah akibat tindakan jahat ini, beliau mengirim pasukan perang pada Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika Zaid mati syahid, maka Ja’far yang menggantikannya. Jjika Ja’far mati syahid, maka Abdullah bin Rawahah penggantinya.”
Ini pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tiga panglima sekaligus karena beliau mengetahui kekuatan militer Romawi yang tak tertandingi pada waktu itu.

Tentara Allah Subhanahu wa Ta’ala Berangkat

Pasukan ini berangkat hingga tiba di Ma’an wilayah Syam dan sampai kepada mereka berita bahwa Raja Romawi bernama Heraklius telah tiba di Balqa bersama 100.000 tentara dan bergabung bersama mereka kabilah-kabilah Arab yang beragama Nasrani yang berjumlah 100.000 tentara sehingga total tentara musuh berjumlah 200.000 tentara. Setelah para sahabat bermusyawarah, sebagian mereka mengatakan, “Kita mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau menambahkan kekuatan tentara atau memerintahkan kepada kita sesuatu.”

Lalu panglima mereka yang ketiga, Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhu, menyemangati mereka seraya mengatakan, “Wahai kaum! Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian takutkan sungguh inilah yang kalian cari (yakni) mati syahid. Kita tidak memerangi manusia karena banyaknya bilangan dan kekuatan persenjataan, tetapi kita memerangi mereka karena agama Islam ini yang Allah muliakan kita dengannya. Bangkitlah kalian memerangi musuh karena sesungguhnya tidak lain bagi kita melainkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu menang atau mati syahid.”

Maka sebagian mereka berkata, “Demi Allah, Ibnu Rawahah benar.” Lalu mereka berangkat sampai mereka tiba di Balqa tempat musuh berada.

Ini munjukka betapa besar keberanian para sahabat dalam jihad memerangi musuh-musuh Allah, semoga Allah melaknat Syi’ah yang mencela para sahabat.

Pertempuran

Tentara Islam dan tentara kufur saling berhadapan. Perlu kita ketahui, tentara di medan perang dibagi menjadi lima pasukan, yaitu: pasukan depan, belakang, kanan, kiri, dan tengah sebagai pasukan inti. Tentara musuh dengan jumlah yang sangat banyak mengharuskan seorang tentara dari sahabat melawan puluhan tentara musuh. Akan tetapi, tentara Allah yang memiliki kekuatan iman dan semangat jihad untuk meraih kemulian mati syahid tidak merasakannya sebagai beban berat bagi mereka sebab kekuatan mereka satu banding sepuluh –sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat,

Jika ada di antara kalian 20 orang yang bersabar maka akan mengalahkan 200 orang.” (QS. Al Anfal: 65)

Tentara Allah sebagai wali dan kekasih-Nya yang berperang untuk meninggikan agama-Nya, maka pasti Allah bersama mereka. Adapun orang-orang kafir sebanyak apapun bilangan dan kekuatan mereka, maka ibarat buih yang tidak berarti apa-apa.

Peperangan berkecamuk dengan dahsyat. Pusat perhatian musuh tertuju kepada pembawa bendera kaum muslimin dan keberanian para panglima Islam dalam maju memerangi musuh, hingga mati syahidlah panglima pertama, Zaid bin Haritsa radhiallahu ‘anhu. Lalu bendara perang diambil oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kannya terputus, lalu bendera dibawa dengan tangannya kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga terbunuh. Sebagai balasannya, Allah menggantikan kedua tangannya dengan dua sayap agar di surga ia dapat terbang ke mana saja. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah atau tombak yang menunjukkan keberaniannya dalam menyerang musuh.

Kemudian bendera perang dibawa oleh panglima ketiga. Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhu dan berperang hingga mati syahid menyusul kedua rekannya. Agar bendera perang tidak jatuh maka mereka mengangkatnya dan bersepakat untuk menyerahkannya kepada Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu, maka beliau membawa bendera perang.

Setelah peperangan yang luar biasa, keesokan harinya Khalid radhiallahu ‘anhu –dengan kecerdasan siasat baru dengan mengubah posisi pasukannya dari semula; yaitu pasukan depan ke belakang dan sebaliknya, pasukan kanan ke kiri dan sebaliknya, sehingga tampak bagi musuh bahwa kaum muslimin mendapat bantuan tentara yang baru dan menimbulkan rasa takut dalam hati mereka dan menjadi sebab kekalahan mereka.

Setelah berperang lama, Khalid radhiallahu ‘anhu menilai bahwa kekuatan musuh jauh tidak sebanding dengan kekuatan kaum muslimin. Maka beliau menarik mundur pasukannya dengan selamat hingga ke Madinah, sedang musuh tidak mengejar mereka karena khawatir kalau-kalau ini dilakukan oleh kaum muslimin sebagai siasat perang untuk mengajak Romawi menuju medan perang yang lebih terbuka di padang pasir –yang akan merugikan Romawi.

Dalam perang ini, Khalid radhiallahu ‘anhu berperang habis-habisan hingga sembilan pedang patah di tangannya. Ini menunjukkan betapa besarnya peperangan tersebut dan betapa besar perjuangan para sahabat demi Islam. Maka semoga Allah melaknat orang-orang Syi’ah yang tidak mengakui keutamaan para sahabat. Seandainya Syi’ah mencela seorang saja dari sahabat biasa, sungguh cukuplah sebagai kejelekan mereka, lalu bagaimana jika yang mereka cela adalah kebanyakan sahabat bahkan yang paling utama di antara mereka. Sungguh tidak ada kebaikan yang dilakukan oleh siapa pun kecuali para sahabat merupakan pendahulunya dan mendapat pahalanya.

Sekalipun demikian dahsyatnya peperangan Mu’tah, sahabat yang mati syahid hanya dua belas orang, dan mereka memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Adapun pasukan musuh tidak dapat dipastikan bilangan mereka yang terbunuh, tetapi diperkirakan sangat banyak. Hal ini dapat diketahui dari hebatnya peperangan yang terjadi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Berkisah Tentang Perang

Tampak mukjizat kenabian, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada para sahabat di Madinah tentang kematian tiga panglimanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dalam keadaan sedih meneteskan air mata seraya berkata, “Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera perang dibawa oleh Siafullah (Pedang Allah –yakni Khalid bin Walid, pen.) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.” Setelah itu, beliau mendatangi keluarga Ja’far dan menghibur mereka serta membuatkan makanan untuk mereka.

Pelajaran dari Kisah:

  1. Boleh mengangkat beberapa pemimpin dalam satu waktu dengan syarat tertentu dan memimpin secara berurutan.
  2. Kaum muslimin mengangkat Khalid sebagai panglima perang merupakan dalil bolehnya ijtihad di masa hidupnya Rasulullah.
  3. Keutamaan tiga panglima (Zaid, Ja’far, Abdullah bin Rawahah) dan keutamaan Khalid bin Walid sebab dalam peperangan ini Rasulullahh shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya dengan Saifullah (Pedang Allah).
  4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedih atas kematian tiga panglimanya, menunjukkan rahmatnya kepada umatnya dan bahwasanya beliau berusaha menentramkan jiwanya untuk bersabar terhadap musibah. Dan ini lebih baik daripada yang tidak sedih dan tidak tersentuh oleh musibah sama sekali.
  5. Hakikat hidup dan ‘izzah (kemuliaan) yang disingkap oleh Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhu bahwa sesungguhnya kemenangan bukanlah karena kekuatan dan jumlah secara materi, melainkan agama dan ketaatan kepada Allah. Lihat Sirah Nabawiyyah karya Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad: 521-526 dan Sirah Nabawiyyah karya Dr. Akram: 2:267-270
Oleh: Ustadz Abu Hafshoh
Sumber: Majalah Al-Fuqon Edisi 6 Tahun Ke-11 1433 H/2012 M
Via : Kisah Muslim

Selasa, 13 Agustus 2013




Diceritakan dari Mubaarak Abu 'Abdillaah rahimahullaah:
 
bahwasanya dahulu dia bekerja disebuah kebun kepunyaan tuannya, dan beliau lama bekerja disana, kemudian tuannya sang pemilik kebun ( salah satu saudagar besar dari Hamadzaan ) suatu hari mendatanginya, dan berkata kepadanya:
 
wahai Mubaarak, aku menginginkan buah delima yg manis.
 
Kemudian Mubaarak pergi kebeberapa pohon dan datang dengan membawa delima, lalu tuannya memecahkan buah delima tersebut dan dia mendapatkan buah itu kecut rasanya, lalu dia memarahinya dan berkata:
 
aku menginginkan buah delima yg manis rasanya lalu kamu menyediakanku delima yg kecut ! berikanlah yg manis.
 
Kemudian Mubaarak pergi dan dia memetik dari pepohonan yg lain, dan ketika tuannya memecahkan buah delima itu, dia mendapatkan buah itu terasa kecut juga, lalu naik lah kemarahan tuannya kepadanya, dan Mubaarak melakukan hal itu sampai tiga kali, lalu tuannya merasakan buah itu dan mendapatkan buah itu terasa kecut juga, kemudian tuannya berkata kepadanya setelah itu:
 
kamu tidak bisa membedakan antara yg manis dan yg kecut ?
 
Lalu dia (Mubaarak) berkata:
 
tidak.
 
Lalu dia (tuannya) berkata:
 
bagaimana bisa seperti itu ?
 
Lalu dia ( Mubaarak ) berkata:
 
karena aku tidak akan memakan sesuatu sampai aku mengetahui (halalnya makanan itu –pent )
 
Lalu dia ( tuannya ) berkata:
 
dan kenapa kamu tidak memakannya ( delima – pent)
 
Dia (Mubaarak) berkata:
 
karena kamu tidak mengizinkan aku untuk memakannya.
 
Maka terkejutlah pemilik kebun itu dari apa yg dia dengar dari percakapan itu, dan ketika terbukti padanya kejujuran hambanya, maka mulialah dia dimatanya, dan naiklah derajatnya disisinya, dan ketika itu dia mempunyai seorang putri yg sudah banyak orang datang untuk meminangnya, lalu berkatalah tuannya kepadanya: wahai Mubaarak, menurutmu, siapakah yg cocok untuk menikahi anak wanita ini ? Kemudian dia ( Mubaarak ) berkata: dahulu orang- orang jahiliyyah menikahkan anak-anak mereka karena keturunannya, dan orang-orang yahudi menikahkan anak-anak mereka karena hartanya, dan nashaara menikahkan anak-anak mereka karena kecantikannya, dan Ummat ini (Islam) menikahkan anak-anak mereka karena agamanya. Lalu senanglah pikirannya, dan pergilah dia lalu dia kabarkan kepada istrinya, dan berkatalah dia kepada istrinya: "aku tidak mendapatkan seorang suami untuk anak ini selain Mubaarak".
 
Maka Mubaarak menikahlah dengannya, dan ayahnya memberikan harta yg sangat banyak kepada keduanya, lalu istrinya melahirkan 'Abdullaah ibnul Mubaarak, seorang 'ULAMA BESAR TABI'UT TABI'IN, Ahli Hadiits Dunia, seorang yg zuhud dan seorang pejuang di jalan Allaah, yg mana beliau adalah buah yg sangat mulia dari pernikahan kedua orang tuanya pada waktu itu. Sampai Al-Imam Fudhail bin 'Iyaadh (IMAM TABI'UT TABI'IN) rahimahullaah bersumpah atas perkataannya: "demi Rabb Pemilik rumah ini (Ka'bah), kedua mataku tidak pernah melihat orang yg seperti Ibnul Mubaarak". ( Wafayaatul A'yaan 2 /237 dan Aina Nahnu min Haa'ulaa 5/184 )
 
Maka, jika anda menginginkan kebaikan kepada anda, keluarga anda di dunia dan akhirat maka perhatikanlah dari mana makanan dan minuman itu diperoleh, dan tidak memakan dan meminum kecuali dari yg halal. Dari Jaabir bin 'Abdillaah radhiyallaahu 'anhuma, aku mendengar Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 
"wahai Ka'ab bin 'Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk kedalam surga, daging yg tumbuh dari harta yg haram ."
 
(HR. Ibnu Hibbaan, Shahiih At-Targhiib wat Tarhiib dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaani rahimahullaah 2/149 No. 1728)
 
 Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum !

Kamis, 25 Juli 2013

 

Diceritakan pada suatu serpihan lembut zaman, hiduplah seorang pemuda ahli ibadah kehabisan bekal dan tertikam oleh rasa lapar di kota Makkah. Hingga ia tak mampu berdiri tegak atau berjalan baik disebabkan perihnya serangan lapar. Di sebuah jalan kecil, ia melihat sebuah kalung emas yang zahirnya tampak mahal. Diambillah kalung itu dan di...simpan di sakunya.

Tak lama masa bergulir, seorang lelaki setengah abad kira usianya mengumumkan bahwa ia kehilangan sebuah kalung berharga. Rupanya ciri-ciri yang dibentangkan selaras persis dengan yang ditemukan si pemuda. Ia pun menyahut:

"Ku temukan kalungmu dan ku kembalikan padamu." Setelah itu, ia pergi meninggalkan pemilik kalung yang terkesiap. Tiada patah kata lagi dari pemuda; tiada pinta imbalan darinya. Dengan segenap kerahan rasa laparnya, pemuda itu berdoa, "Ya Rabb, aku lakukan itu semua untuk-Mu. Ku tinggalkan kalung itu demi-Mu. Maka berilah ganti yang lebih baik dari itu semua untukku."

Suatu hari, ia melaut dengan menumpang sebuah kapal barang. Di tengah perjalanan, badai menerjang. Kapal pun terombang-ambing dan akhirnya menyerah pada amuk badai dan jilatan samudera. Tiada seorang pun selamat melainkan si pemuda. Ia terkatung-katung di atas sebuah kayu. Hingga akhirnya angin, gelombang dan kayu mengantarkan jasadnya yang sudah lemah itu ke sebuah pulau.

Ia pun bangkit dan tertatih berjalan. Dilihatnya ada masjid tua. Menujulah ia ke sana. Didapatkan orang-orang sedang shalat di dalamnya dan kemudian ia turut melaksanakan. Seusai shalat, ia menoleh pada lembaran-lembaran di dalam masjid yang rupanya adalah lembaran Al-Qur'an. Pemuda asing ini membacanya dengan bacaan yang baik.

Para jama'ah masjid, yang merupakan penduduk pulau itu, menoleh padanya. Mereka terkesima dengan bacaan pemuda itu. Sementara ia dalam kondisi badan dan zahir yang tidak sehat. Seorang di antara jama'ah bertanya, "Kami dapatkan kau mahir membaca Al-Qur'an. Kiranya engkau bersedia ajari kami dan anak-anak kami membaca Al-Qur'an? Kami akan penuhi kebutuhanmu dan memberimu upah atas jasamu."

Pemuda itu pun setuju. Ia pun kemudian bertugas sebagai pengajar Al-Qur'an di pulau itu. Hidupnya pun berkecukupan.

Hari-hari berlalu. Orang-orang bercerita padanya bahwa di pulau itu, ada seorang gadis yang orang tuanya telah tiada. Orang tuanya adalah tokoh yang dikenal baik di sana. Mereka menawarkan padanya untuk menikahi sang gadis. Setujulah ia.

Mereka pun menikah. Saat malam pertamanya, ia tertakjub dengan kecantikan istrinya, tak hentinya mengucap syukur kepada Allah yang telah memberi karunia sebesar itu untuknya. Belum selesai rasa kagumnya, ia dikejutkan lagi oleh seuntai kalung di leher istrinya. Persis dengan kalung yang dulu ia temukan di Makkah dan ia kembalikan ke yang berpunya.

Ia bertanya pada istrinya mengenai kalung tersebut. Sang istri bercerita dahulu ayahnya pernah menghilangkannya di kota Makkah. Dan kalung itu ditemukan oleh seorang pemuda yang kemudian mengembalikannya begitu saja tanpa pamrih. Dalam doanya sang ayah selalu berdoa agar anak gadisnya dikaruniai pemuda seperti pemuda yg mengembalikan kalung emas itu. Dan di akhir ceritanya , si suami berkata dengan lirih,"Wahai istriku... sayalah laki-laki yang menemukan kalung itu."

=================================================================

Adalah Allah, Al-Lathiif, Maha Lembut pada hambanya. Dia lah yang tentukan takdir dan tentukan kadar segalanya. Dan tiada yang tertakdir oleh Al-Lathiif, melainkan pasti berhikmah. Biarpun kini engkau mengira-ngira bahwa penyakit yang menyiksamu, atau kemiskinan yang menghempaskanmu, atau cercaan yang menyudutkanmu adalah bentuk marahnya Sang Lathiif padamu, tapi sebenarnya itu adalah ujian....bentuk kelembutan Allah padamu, sebagai hamba.

Akal manusia terbatas. Terbatas pula dalam memahami hikmah dan dzat perkara. Karena itulah, kau di masa kini tak menahu tentang kau di masa esok. Dan jikalau kau tiba di masa esok, kau takkan menahu tentang kau di keesokan esok. Karena secerdas-cerdasnya akal kau berpunya, tidaklah mampu memahami segala dan menjawab segala.

Syair ini milik salah seorang yang terpuji, Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anh-:

وكم لله من لطفٍ خفيٍّ ** يَدِقّ خَفَاهُ عَنْ فَهْمِ الذَّكِيِّ

Betapa banyaknya kelembutan Allah
yang tersembunyi
tersembunyikan ketersembunyiannya
dari akal orang cerdas

وَكَمْ يُسْرٍ أَتَى مِنْ بَعْدِ عُسْرٍ ** فَفَرَّجَ كُرْبَةَ القَلْبِ الشَّجِيِّ

Betapa selalunya kemudahan datang
setelah kesulitan
Maka terenyahlah kesempitan
dari hati yang berduka

وكم أمرٍ تساءُ به صباحاً ** وَتَأْتِيْكَ المَسَرَّةُ بالعَشِيِّ

Betapa mungkinnya sesuatu
begitu buruk di pagi hari
lalu datang padamu keceriaan
di malam hari

إذا ضاقت بك الأحوال يوماً ** فَثِقْ بالواحِدِ الفَرْدِ العَلِيِّ

Jika menyempit dalam hidupmu
suasana-suasana dalam hari
Maka percayakanlah pada
Yang Maha Esa...Yang Maha Tinggi [Allah]

وَلاَ تَجْزَعْ إذا ما نابَ خَطْبٌ ** فكم للهِ من لُطفٍ خفي

Dan janganlah berputus asa ketika
jika serasa suratan doamu tak terjawab
Betapa banyaknya kelembutan Allah
yang tersembunyi

Sesungguhnya setelah berbait-bait kau berdoa dan bermasa-masa kau berharap, banyak sekali kelembutan dan rahmat Allah atasmu yang tidak kau lihat. Tidak kau perhatikan. Tidak kau fikirkan. Maka, tetaplah bersyukur meskipun segala terasa menyempit.

Karena...

Hidupmu...inspirasimu...hidupmu...inspirasi untuk selainmu...maka lihatlah ayat-ayat, di sanalah berjuta inspirasi untukmu.
 
Sumber : Catatan Hasan Al-Jaizy

Jumat, 12 Juli 2013

Tahapan Diwajibkannya Puasa Bagi Ummat Islam

Posted by Unknown | 7/12/2013 02:03:00 PM Categories: , ,


Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan dalam Kitabnya Al Hadyii,

كان فرضه فى السنة الثانية من الهجرة، فتوفِّى رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وقد صامَ تِسع رمضانات، وفُرِضَ أولاً على وجه التخيير بينه وبين أن يُطعِم عن كُلِّ يوم مسكيناً، ثم نُقِلَ مِن ذلك التخيير إلى تحتُّم الصومِ، وجعل الإطعام للشيخ الكبير والمرأة إذا لم يُطيقا الصيامَ، فإنهما يُفطِران ويُطعمان عن كُلِّ يوم مسكيناً، ورخَّص للمريض والمسافِر أن يُفطرا ويقضيا، ولِلحامِل والْمُرضِعِ إذا خافتا على أنفسهما كَذَلِكَ، فإن خافتا على ولديهما، زادتا مع القضاء إطعام مِسكين لِكُلِّ يوم، فإن فطرهما لم يكن لِخوف مرض، وإنما كان مع الصِّحة، فجُبِر بإطعام المسكين كفطر الصحيح فى أوَّل الإسلام.
وكان للصوم رُتَبٌ ثلاث، إحداها: إيجابُه بوصف التخيير.
والثانية تحتُّمه، لكن كان الصائمُ إذا نام قبل أن يَطْعَمَ حَرُمَ عليه الطعامُ والشرابُ إلى الليلة القابلة، فنُسِخ ذلك بالرتبة الثالثة، وهى التى استقر عليها الشرعُ إلى يوم القيامة.

“Puasa diwajibkan pada tahun ke dua setelah peristiwa hijroh[1]. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam wafat dalam keadaan telah melaksanakan sembilan kali Puasa Romadhon[2]. Puasa Romadhon pertama kali diwajibkan dalam bentuk pilihan, antara melaksanakan puasa atau memberi makan setiap harinya satu orang miskin.

Kemudian dirubah menjadi penetapan puasa. Sedangkan kewajiban memberi makan setiap harinya satu orang miskin bagi orang yang sudah lanjut usia yang tidak sanggup puasa dan perempuan yang tidak lagi sanggup berpuasa. Maka untuk kedua golongan orang ini boleh tidak berpuasa namun dengan memberi makan setiap hari yang ditinggalkan untuk satu orang miskin[3]. Sedangkan bagi orang yang sakit, musafir wajib bagi mereka mengganti di hari yang lain. Sedangkan bagi orang yang hamil dan menyusui jika mereka takut akan jiwanya dan anaknya maka selain mengganti mereka juga harus menambahnya dengan memberi makan setiap hari yang ditinggalkan satu orang miskin karena mereka tidak berpuasa bukan karena sakit. Maka diwajibkan juga bagi mereka memberi makan 1 orang miskin setiap hari yang mereka tidak berpuasa[4] sebagaimana diwajibkan puasa pertama sekali.

Ringkasnya proses pewajiban Puasa Romadhon melalui tiga fase.

Pertama diwajibkan dalam bentuk pilihan.

Kedua diwajibkan dalam bentuk puasa saja namun jika orang yang berpuasa tertidur sebelum makan (ketika telah masuk waktu berbuka) maka ia tidak boleh makan dan minum hingga hari berikutnya (tidak ada sahur baginya sebelum subuh).

Tahap Ketiga[5] rincian ini dihapus sebagaimana puasa yang kita lakukan sekarang dan tahap ini berlaku hingga hari qiyamat”.



Syiakh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Hikmah diwajibkannya puasa melalui tahap pilihan ini adalah adanya pentahapan dalam pensyari’atan agar lebih mudah diterima sebagaimana pengharaman khomer”[6].

Mudah-mudahn bermanfaat.

[Diterjemahkan dari Kitab Zaadul Ma’ad fi Hadyii Khoiril ‘Ibaad oleh Ibnu Qoyyim hal. 29-30 dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qodir Al Arnauth terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut.]





sumber : alhijroh.com Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

[1] Hal ini diklaim ijma’ oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin Rohimahullah sebagaimana beliau katakan di Syarhul Mumthi’ hal. 164/III terbitan Al Maktab Al ‘Alimi Li Nasyri terbitan Beirut.

[2] Idem.

[3] Imam Bukhori Rohimahullah dalam kitab Shahihnya no. 4505 meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhu tentang tafir firman Allah Ta’ala,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin”. (QS. Al Baqoroh [2] : 184)

Ayat ini tidaklah dimansukh/hapus, yaitu yang dimaksud adalah orang yang tua renta baik laki-laki dan perempuan yang tidak mampu lagi berpuasa. Maka wajib bagi mereka memberi makan orang miskin sebanyak hari yang mereka tinggalkan.

[4] Sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunannya no. 2408 dan Tirmidzi no. 715. Namun apa yang disampaikan Ibnul Qoyyim di sini merupakan perkara yang diperselisihkan pada ulama Rohimahumullah, yaitu apakah ada tambahan wajib memberi makan orang miskin pada setiap hari yang ditinggalkan. Pendapat yang dipilih Ibnul Qoyyim di sini diriwayatkan merupakan pendapatnya Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas, Mujahid, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Pendapat kedua mengatakan bahwa yang wajib hanyalah menggantinya di hari yang lain sebagaimana orang yang sakit. Inilah pendapatnya Al Hasan Al Bashri, ‘Atho’, An Nakho’i, Az Zuhri, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsauri dan Ashabu Ro’yi. Imam Malik mengatakan, ‘Orang yang hamil wajib mengganti puasanya di hari yang lain dan tidak wajib memberi makan orang miskin. Karena jika ia berpuasa maka dapat membahayakan jiwanya sebagaimana orang yang sakit. Sedangkan orang yang menyusui maka wajib baginya mengganti puasa dan memberi makan satu orang miskin bagi setiap hari yang ditinggalkannya.

[5] Imam Al Bukhori mengeluarkan dalam Kitab Shahihnya no. 1915, demikian juga Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 18611, dari Baro’ bin ‘Azib Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Dahulu para Shahabat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam jika seorang laki-laki berpuasa kemudian tibalah saat berbuka. Lalu ia tertidur sebelum makan dan minum maka ia tidak boleh makan pada malam harinya hingga keesokan harinya (waktu maghrib tiba). Sesungguhnya Qois bin Shirmah Al Anshori Rodhiyallahu ‘anhu berpuasa, kemudian tibalah waktu berbuka. Ia lantas menemui istrinya dan bertanya, ‘Adakah makanan ?’ istrinya menjawab, ‘Tidak’, namun aku akan mencarikan makanan untukmu’. Qois bin Shirmah pada siang harinya bekerja hingga lelah dan ia pun tertidur. Lalu datanglah istrinya, ketika ia melihat Qois maka ia mengatakan, ‘Celakalah engkau’. Ketika tengah hari tiba ia kemudian pingsan. Hal ini disampaikan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian turunlah ayat,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu”. (QS. Al Baqoroh [2] : 187)

Maka para sahabatpun gembira sekali. Kemudian turunlah ayat,

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ

“Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam”. (QS. Al Baqoroh [2] : 187).

[6] Lihat Syarhul Mumthi’ hal. 164/III.

Catatan Asrizal Ar-Riauniy Nasution

Rabu, 03 Juli 2013

"Balsem Untuk Memar di Hati"

Posted by Unknown | 7/03/2013 01:30:00 PM Categories: ,
 
 
Serial HIDUPMU INSPIRASIMU : [16] "Balsem Untuk Memar di Hati"

Seorang pedagang termangu di lapaknya. Pasar pagi itu begitu sepi. Kadang ia menoleh sekeliling. Pengunjung lapaknya tetap absen. Seolah keberadaannya adalah ketiadaannya. Kadang ia membuat puisi iri di hati melihat satu lapak lain dikerubuti pengunjung, padahal hanya 3; dan belum tentu semuanya membeli. Kenapa pasar itu terasa sepi?... Karena rupanya gerimis mengundang sepi. Meninabobokkan emak-emak di rumah. Seolah-olah suami-suami mereka sebelum berangkat berpesan, 'Stay there and don't get out of the house or I'm gonna kick your ash!'

Dan rupanya bukan hanya ia yang termangu. Ada beberapa pedagang yang sedang menghitung detik demi detik tanpa untung. Mereka semua termangu dan saling berbalas pantun iri pada angin yang dikirim oleh gerimis.

Menjelang siang, pedagang itu hendak pulang ke rumah. Ia hendak menangis, namun pada siapa hendak berlaku? Ia ingin tumpahkan kecewa, namun tiada manusia hendak menyapa. Ia pulang dengan tangisan tak terdengar, dan kekecewaan tak tergambar. Malu menangis di tengah manusia dan gengsi kecewa. Ia tutup lapaknya. Ia masukkan barang-barang jualannya ke karung dalam-dalam. Ia tidak ingin siapapun melihat bahwa rupanya barang jualannya masih banyak tersisa tak laku. Lalu ia berjalan susuri lorong-lorong pasar dengan hati perih.

'Aku tahu ini ujianmu, ya Allah,' keimanannya berusaha membelai hati.

Ia tak ingin menoleh pada siapapun. Tak ingin disapa siapapun. Tak ingin diketahui tidak lakunya dagangannya; meskipun ia benar-benar tahu banyak pedagang lainnya merasakan kepahitan serupa.

Sesampai di rumah, ia menaruh dagangannya. Menjelang dzuhur. Wajah sudah tak sabar dicumbu oleh percikan-percikan. Jidat pun berharap segera menyentuh tanah. Kedua tangan juga tak sabaran untuk terangkat. Lidah, mulut dan tenggorokan ingin bekerja sama untuk mengucapkan 'Allahu akbar!'.

****

Di antara manusia, ada manusia. Di tengah-tengah manusia, ada manusia.

Tiap-tiap manusia, miliki garisan dan goresan yang ceritakan tentang senyum-senyum bahagia atau haru. Kadang kisahkan tentang air mata yang bercabang menjadi sungai-sungai di pipi keriput.

Betapa banyak manusia yang dirizkikan besar oleh Allah, tidak mengerti saudara-saudaranya yang kekurangan. Dan manusia adalah kita.

Seperti seorang berilmu tinggi yang tidak hendak mengerti perasaan dan pengorbanan orang-orang berilmu rendah. Karena jika sudah berilmu tinggi, untuk apa repot-repot berusaha memahami perasaan orang-orang jahil!? Dan jika ilmu sudah meninggi, maka tugasnya hanyalah ceramah dan berfatwa. Jika gelar besar sudah terpangku di belakang nama, apa peduli kita pada murid-murid baru yang belum mampu melantunkan huruf Qaf atau Syin dengan benar!?

Dan apa peduliku jika ternyata aku adalah pangeran bergelimang harta!? Karena ini adalah nasibku, bagianku, hartaku, jerihku dan upayaku. Betapa rupanya aku tak ingin menginjakkan kaki....oh, tidak, karena memakai sepatu kebesaranku...di lorong-lorong miskin, pasar-pasar becek, pemukiman kumuh dan pojok-pojok kota. Untuk apa lakukan itu? Tiada wajib bagiku fahami hati mereka. Biarkan mereka hidup dengan nasibnya.

****

Ada seorang anak SD di kota ini pulang ke rumah dengan wajah cukup memerah. Ia tertunduk. Belajar selesai sudah. Ia tidak dimarahi guru. Tidak diusili teman. Semua baik-baik saja.

Sesampai di rumah, ia hendak menawarkan tangis di depan orang tuanya. Namun, rupanya keduanya tidak ada. Mungkin sedang bekerja mencari nafkah.

Lalu, anak kecil perempuan ini menangis sendirian di kamar. Menutup mukanya. Tidak ada yang bertanya kenapa. Ia menangis sendirian dalam kesepian. Lalu, kau bertanya, 'Adik kecil, gerangan apa yang buatmu menangis?'

Dia menjawab terbata-bata bertarung dengan isak tak terhenti, "Semua teman-teman di sekolahku pulang pergi dijemput dan diantar oleh orang tua mereka dengan kendaraan. Sedangkan aku...malu tidak dipedulikan."

****

Hidupmu adalah inspirasimu...terlahir dari kisah-kisah dan pelajaran-pelajaran beribrah. Jika orang-orang hebat dan besar bisa menginspirasimu, seharusnya orang-orang kecil atau rakyat kecil juga bisa menjadi sumber inspirasimu.
 
Sumber : Catatan Hasan Al-Jaizy

Sabtu, 08 Juni 2013

Hajar Aswad Pernah dicuri ?

Posted by Unknown | 6/08/2013 08:39:00 AM Categories: , ,
hajar aswad Sejarah Hajar Aswad Dicuri

Kota Mekah, dengan kemuliaan yang disandangnya, ia memiliki hukum-hukum yang telah ditetapkan syariat, sebagai bukti yang menunjukkan kemuliaannya. Siapapun dilarang melakukan perbuatan maksiat. Meski larangan ini telah jelas, ternyata dalam perjalanan sejarah kaum Muslimin, khususnya kota Mekah dan Ka’bah, pernah terjadi pelanggaran yang sangat memilukan dan menodai Ka’bah secara khusus, yaitu terjadinya penjarahan Hajar Aswad.

Hajar Aswad merupakan batu termulia. Dia berasal dari Jannah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ
Hajar Aswad turun dari surga, dalam kondisi berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adam-lah yang membuatnya sampai berwarna hitam.” [Hadits shahih riwayat at Tirmidzi. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 877].

Tentang keutamaannya yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ِإنَّ لِهَذَا الْحَجَرِ لِساَناً وَ شَفَتَيْنِ يَشْهَدُ لِمَنْ اسْتَلَمَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَقٍّ
Sesungguhnya batu ini akan punya lisan dan dua bibir akan bersaksi bagi orang yang menyentuhnya di hari Kiamat dengan cara yang benar.” [HR al Hakim dan Ibnu Hibban, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahihul-Jami', no. 2184.].

Dari Ibnu ‘Umar, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مَسْحَهُمَا يَحُطَّانِ الْخَطِيئَةَ
Sesungguhnya mengusap keduanya (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) akan menghapus dosa.”[ Hadits shahih riwayat an Nasaa-i. Dishahihkan oleh al Albani. Lihat Shahih Sunan an Nasaa-i, no. 2919].

Hajar Aswad, dahulu berbentuk satu bongkahan. Namun setelah terjadinya penjarahan yang terjadi pada tahun 317H, pada masa pemerintahan al Qahir Billah Muhammad bin al Mu’tadhid dengan cara mencongkel dari tempatnya, Hajar Aswad kini menjadi delapan bongkahan kecil. Batu yang berwarna hitam ini berada di sisi selatan Ka’bah.

Adalah Abu Thahir, Sulaiman bin Abu Said al Husain al Janabi, tokoh golongan Qaramithah pada masanya, telah menggegerkan dunia Islam dengan melakukan kerusakan dan peperangan terhadap kaum Muslimin. Kota yang suci, Mekah dan Masjidil Haram tidak luput dari kejahatannya. Dia dan pengikutnya melakukan pembunuhan, perampokan dan merusak rumah-rumah. Bila terdengar namanya, orang-orang akan berusaha lari untuk menyelamatkan diri [Al Bidayah wan Nihayah, 11/187].

Kisahnya, pada musim haji tahun 317H tersebut, rombongan haji dari Irak pimpinan Manshur ad Dailami bertolak menuju Mekah dan sampai dalam keadaan selamat. Namun, tiba-tiba pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah), orang-orang Qaramithah (salah satu sekte Syiah Isma’iliyah) melakukan huru-hara di tanah Haram. Mereka merampok harta-harta jamaah haji dan menghalalkan untuk memeranginya. Banyak jamaah haji yang menjadi korban, bahkan, meskipun berada di dekat Ka’bah.

Sementara itu, pimpinan orang-orang Qaramithah ini, yaitu Abu Thahir –semoga mendapatkan balasan yang sepadan dari Allah– berdiri di pintu Ka’bah dengan pengawalan, menyaksikan pedang-pedang pengikutnya merajalela, menyudahi nyawa-nyawa manusia.

Dengan congkaknya ia berkata : “Saya adalah Allah. Saya bersama Allah. Sayalah yang menciptakan makhluk-makhluk. Dan sayalah yang akan membinasakan mereka”.

Massa berlarian menyelamatkan diri. Sebagian berpegangan dengan kelambu Ka’bah. Namun, mereka tetap menjadi korban, pedang-pedang kaum Syi’ah Qaramithah ini menebasnya. Begitu juga, orang-orang yang sedang thawaf, tidak luput dari pedang-pedang mereka, termasuk di dalamnya sebagian ahli hadits.

Usai menuntaskan kejahatannya yang tidak terkira terhadap para jamaah haji, Abu Thahir memerintahkan pasukan untuk mengubur jasad-jasad korban keganasannya tersebut ke dalam sumur Zam Zam. Sebagian lainnya, di kubur di tanah Haram dan di lokasi Masjidil Haram.

Kubah sumur Zam Zam ia hancurkan. Dia juga memerintahkan agar pintu Ka’bah dicopot dan melepas kiswahnya. Selanjutnya, ia merobek-robeknya di hadapan para pengikutnya. Dia meminta kepada salah seorang pengikutnya untuk naik ke atas Ka’bah dan mencabut talang Ka’bah. Namun tiba-tiba, orang tersebut terjatuh dan mati seketika. Abu Thahir pun mengurungkan niatnya untuk mengambil talang Ka’bah. Kemudian, ia memerintahkan untuk mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya. Seorang lelaki memukul dan mencongkelnya.
Dengan nada menantang, Abu Thahir sesumbar : “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari Neraka Sijjil?”

Peristiwa penjarahan Hajar Aswad ini, membuat Amir Mekah dan keluarganya dengan didukung sejumlah pasukan mengejar mereka. Amir Mekah berusaha membujuk Abu Thahir agar mau mengembalikan Hajar aswad ke tempat semula. Seluruh harta yang dimiliki Sang Amir telah ia tawarkan untuk menebus Hajar Aswad itu. Namun Abu Thahir tidak bergeming. Bahkan Sang Amir, anggota keluarga dan pasukannya menjadi korban berikutnya. Abu Thahir pun melenggang menuju daerahnya dengan membawa Hajar Aswad dan harta-harta rampasan dari jamaah haji. Batu dari Jannah ini, ia bawa pulang ke daerahnya, yaitu Hajr (Ahsa), dan berada di sana selama 22 tahun.

Menurut Ibnu Katsir, golongan Qaramithah membabi buta semacam itu, karena mereka sebenarnya kuffar zanadiqah. Mereka berafiliasi kepada regim Fathimiyyun yang telah menancapkan hegemoninya pada tahun-tahun itu di wilayah Afrika. Pemimpin mereka bergelar al Mahdi, yaitu Abu Muhammad ‘Ubaidillah bin Maimun al Qadah. Sebelumnya ia seorang Yahudi, yang berprofesi sebagai tukang emas. Lantas, mengaku telah masuk Islam, dan mengklaim berasal dari kalangan syarif (keturunan Nabi Muhammad). Banyak orang dari suku Barbar yang mempercayainya. Hingga pada akhirnya, ia dapat memegang kekuasan sebagai kepala negara di wilayah tersebut. Orang-orang Qaramtihah menjalin hubungan baik dengannya. Mereka (Qaramithah) akhirnya menjadi semakin kuat dan terkenal.

Perbuatan Abu Thahir al Qurmuthi, orang yang memerintahkan penjarahan Hajar Aswad ini, oleh Ibnu Katsir dikatakan : “Dia telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya”. [Al Bidayah wan Nihayah, 11/191. Ibnu Katsir mengisahkan peristiwa ini di halaman 190-192].

Setelah masa 22 tahun Hajar Aswad dalam penguasaan Abu Thahir, ia kemudian dikembalikan. Tetapnya pada tahun 339H.

Pada saat mengungkapkan kejadian tahun 339 H, Ibnu Katsir menyebutnya sebagai tahun berkah, lantaran pada bulan Dzul Hijjah tahun tersebut, Hajar Aswad dikembalikan ke tempat semula. Peristiwa kembalinya Hajar Aswad sangat menggembirakan segenap kaum Muslimin.

Pasalnya, berbagai usaha dan upaya untuk mengembalikannya sudah dilakukan. Amir Bajkam at Turki pernah menawarkan 50 ribu Dinar sebagai tebusan Hajar Aswad. Tetapi, tawaran ini tidak meluluhkan hati Abu Thahir, pimpinan Qaramithah saat itu.

Kaum Qaramithah ini berkilah: “Kami mengambil batu ini berdasarkan perintah, dan akan mengembalikannya berdasarkan perintah orang yang bersangkutan”.

Pada tahun 339 H, sebelum mengembalikan ke Mekah, orang-orang Qaramithah mengusung Hajar Aswad ke Kufah, dan menggantungkannya pada tujuh tiang Masjid Kufah. Agar, orang-orang dapat menyaksikannya. Lalu, saudara Abu Thahir menulis ketetapan : “Kami dahulu mengambilnya dengan sebuah perintah. Dan sekarang kami mengembalikannya dengan perintah juga, agar pelaksanaan manasik haji umat menjadi lancar”.

Akhirnya, Hajar Aswad dikirim ke Mekah di atas satu tunggangan tanpa ada halangan. Dan sampai di Mekah pada bulan Dzul Qa’dah tahun 339H [Al Bidayah wan Nihayah, 11/265].

Dikisahkan oleh sebagian orang, bahwa pada saat penjarahan Hajar Aswad, orang-orang Qaramithah terpaksa mengangkut Hajar Aswad di atas beberapa onta. Punuk-punuk onta sampai terluka dan mengeluarkan nanah. Tetapi, saat dikembalikan hanya membutuhkan satu tunggangan saja, tanpa terjadi hal-hal aneh dalam perjalanan. (Mas)

Sumber :
- Shahih Bukhari, al Imam al Bukhari, Darul Arqam, Beirut, tanpa tahun.
- Shahih Muslim, Syarhun-Nawawi, Darul Ma’rifah, Beirut, Cet. VI, Th. 1420 H.
- Ihkamil-Ahkam Syarhu ‘Umdatil-Ahkam, Ibnu Daqiqil ‘Id, tahqiq Hasan Ahmad Dar Ibni Hazm Cet. I, Th. 1423 H.
- Al Bidayah wan-Nihayah, al Imam Imaduddin Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Darul Ma’rifah, Cet. VI, Th. 1422 H.
- Wamdhul-‘Aqiq min Makkata wal-Baitil ‘Aqiq, Muhammad ‘Ali Barnawi, Mekah Mukaramah, Cet. I. Th. 1425 H.
- Shahih Sunan at-Tirmidzi, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktabah al Ma’arif.
- Shahih Sunan an-Nasai, Muhammad Nashiruddin al Albani Maktabah al Ma’arif.
- Shahihul-Jami’ wa Ziyadatuhu, Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktab Islami, Cet. III, Th. 1408.
- Taisiril Karimir-Rahman, Abdur Rahman as Sa’di, Muassasah Risalah, Cet. I, Th. 1423H.
- Al Jami’ li Ahkamil-Qur`an, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al Qurthubi, tahqiq Abdur Razaq al Mahdi, Darul Kitabil-‘Arabi, Cet. II, Th. 1420 H.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Via : Kisah Muslim

Rabu, 29 Mei 2013


biografi umar



Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ingin mengetahui sendiri kondisi para gubernurnya di saat memimpin suatu daerah. Maka, beliau bertanya kepada rakyat mengenai para gubernur dan kelayakan mereka dalam menetapkan hukum. Suatu hari beliau datang ke Himsha. Saat itu Sa’id bin Amir al-Jamhi radhiyallahu ‘anhu yang menjadi gubernur daerah Himsha.

Umar mengumpulkan penduduk Himsha dan bertanya kepada mereka, “Wahai penduduk Himsha! Bagaimana penilaian kalian terhadap gubernur kalian, Said?” Mereka menjawab, “Kami mengeluhkan darinya empat hal: dia tidak keluar untuk mengurusi kami sebelum siang hingga matahari telah meninggi, dia tidak melayani seorang pun dari penduduk di malam hari, dalam satu bulan ada satu hari dia tidak keluar mengurusi kami, dia sering terkena pingsan, sehingga dia antara hidup dan mati.” Mendengar pernyataan masyarakat Himsha Umar radhiyallahu ‘anhu mempertemukan Sa’id radhiyallahu ‘anhu dengan mereka untuk mengklarifikasi berita tersebut.
Umar bergumam, “Ya Allah! Janganlah engkau mengubah penilaianku terhadap dirinya lantaran apa yang mereka keluhkan darinya pada hari ini.” Umar lalu mempersilahkan gubernurnya itu menanggapi isu tersebut. Sa’id mengatakan, “Mengenai saya tidak keluar hingga matahari siang telah meninggi, karena keluargaku tidak mempunyai pembantu. Maka, saya sendiri yang membuat adonan roti, kemudian saya menunggu hingga adonan itu meragi, barulah setelah membuat roti saya keluar.

Kemudian saya berwudhu mengurusi penduduk.
Adapun saya tidak melayani seorang pun di antara penduduk di malam hari, karena saya telah menjadikan waktu siang saya untuk mereka dan saya menjadikan waktu malam saya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengenai satu hari dalam sebulan saya tidak keluar untuk mengurusi seorang pun, karena saya tidak mempunyai pembantu untuk mencucikan baju saya, dan saya tidak mempunyai pakaian ganti yang bisa saya pakai sampai pakaiannya kering, kemudian saya memakainya dan saya keluar mengurusi mereka di penghujung siang.

Sedangkan pingsan yang menjadikan diriku antara hidup dan mati sebabnya ialah sesuatu yang menyakitkan, yaitu saya menyaksikan kematian Khubaib bin Adi al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Sungguh, orang Quraisy telah memotong-motong dagingnya kemudian mereka membawanya ke atas batang pohon untuk memberikan siksaan yang melampaui batas dan membuatnya pedih agar dia mengufuri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berakta kepadanya, ‘Apakah engkau senang bia kami jadikan Muhammad yang kamu tunduk pada agamanya berada pada posisimu sekarang’ Dia pun menolak dengan berkata, ‘Demi Allah, saya tidak senang hidup di tengah-tengah keluargaku sementara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam jarinya tertusuk duri dan menyakitinya.’ Lantas saya ingat hari itu dan panggilan itu. Saya tidak membela Khubaib radhiyallahu ‘anhu padahal dia dalam kondisi yang buruk karena ketika itu saya masih musyrik, saya belum beriman kepada Allah Yang Maha Agung dan tidak beriman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Saya tidak ingat itu kecuali saya beranggapan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengampuniku karena dosa untuk selamanya. Maka dari itu, saya mengalami guncangan kemudian pingsan.” Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengubah penilaianku terhadap dirimu.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Via : Kisah Muslim

Kamis, 02 Mei 2013

Cerita Sebuah Kata ...

Posted by Unknown | 5/02/2013 08:30:00 AM Categories: , ,
 
Oleh: Akhyar Hadi, Mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan 1433 H

Juara I Kategori: Lomba Karya Tulis Bebas Pekilo UIM
 
Lelaki itu seperti lelaki tua biasa. Biasanya lelaki tua sepertinya ditemui di lambung Masjid Nabawi, sebagai jamaah umroh akibat terlalu lama menunggu giliran haji. Atau lelaki tua sepertinya ada di sawah, kelelahan mencangkul walau matahari baru naik setengah. Bisa juga lelaki sepertinya kita temui sedang duduk-duduk di teras sambil menghias pot bunga, membersihkan rumput, dan menanam pohon kecil di pekarangan. Atau, kalau kita menyaksikan berita banjir di TVRI, lelaki seperti ini biasanya diwawancarai karena terlambat mendapat jatah bantuan mie instan. Dia jenis lelaki yang mudah didapati. Lelaki tua yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
 
Diusianya yang sudah memasuki kepala enam, wajar jika seluruh rambut di kepalanya memutih. Tiap-tiap helai itu adalah gambaran masalah yang dilaluinya, guratan-guratan kerut di wajahnya adalah lambang goresan waktu yang jemawa. Tangan kanan dan kirinya tak lagi sekuat dulu. Bahunya yang dulu kekar, kini mulai kurus dan membungkuk. Ototnya lemah. Kadang dia beristighfar sambil menarik napas panjang ketika lelah. Tapi kawan, matanya istimewa. Di situlah pusat gravitasi pesona dirinya. Matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan jiwanya yang tak pernah kosong. Seseorang yang biasa kucium tangannya. Ayah, kupanggil ia.


...


Ayahku adalah ayah pada umumnya. Ayah yang ketika aku kecil, menyediakan tempat duduk istimewa untukku saat karnaval kota malam Idul Fitri. Dia mendudukkanku di bahunya, digenggamnya erat kakiku agar nyaman saat duduk. Tak ia pedulikan karnaval itu. Karena tawaku adalah karnaval baginya. Bahagiaku adalah iringan semangat hidupnya.

Aku juga masih kecil saat itu. Ayah hanya seorang supir truk batubara di pedalaman Kalimantan. Bekerja selepas Isya lalu pulang sehabis Shubuh. Ayah adalah lelaki pendiam, tak banyak bicara. Tak suka memukul. Tak pandai ia marah. Walau begitu, ayah adalah tolak ukur tindakan bagiku, contoh hidup tingkah laku. Tak pernah ia cerewet menyuruhku salat. Ia hanya mengerjakan, lalu mengajakku bersamanya. Sesederhana itu, Kawan. Ia juga sangat ingin aku sering-sering membaca Al-Quran, walau tak pernah ia menyuruh. Walau tak pernah ia mencontohkan cara membaca Al-Quran. Kau tahu kenapa, Kawan? Karena kutahu, ia pun terbata membacanya.

Biasanya aku menghabiskan waktu bersama ayahku tiap akhir pekan. Aku senang berada di bak truk besarnya. Beliau duduk bersamaku sambil bercerita. Tentang para pahlawan, tentang panorama-panorama, bintang dan planet-planetnya, tentang semesta, juga tentang kota-kota yang pernah disinggahinya. Dia senang bercerita tentang banyak kota, dan aku tahu kota impiannya adalah Mekkah dan Madinah. Jauh, jauh di lubuk hatinya ia mendambakan kota itu melebihi kota manapun di dunia. Walau dia tak mengatakannya langsung, tapi aku tahu dengan sendirinya, seolah ada bahasa lain selain bahasa lisan, bahasa yang dijalin antara seorang anak dan ayahnya dari hati ke hati.

“Ayah ingin sekali pergi haji.”

Begitu kiranya jika kata itu diucapkan.

...

Aku masih muda, sedang ayah menua. Semenjak krisis ekonomi, harga batubara anjlok. Ayah dengan setumpuk masalah keuangan yang menimpanya bangkrut. Truk besar tua kami mogok. Rusak. Sekarat. Seolah bosan terlalu lama memikul bongkahan-bongkahan batu hitam langka. Tak bisa lagi diperbaiki karena tak ada biaya. Ayah tak bisa lagi bekerja. Ayah menganggur bertahun-tahun lamanya.

Ayah pun sekarang menikmati masa tuanya dengan belajar banyak dari agama. Sering pergi ke kajian-kajian ilmiah. Rajin ia membaca. Berlama-lama dengan kumpulan buku dan majalahnya. Jiwa tua itu masih sangat antusias. Sesuatu yang tak ia dapat selagi muda. Matanya, iya matanya, selalu membulat ketika menjelaskan kalau bid’ah itu semuanya sesat. Walau kata-katanya sedikit, aku dibuatnya percaya kalau semua kesesatan itu tempatnya di neraka. Dia juga orang paling mengamati tiap senti celana. Dijaganya agar aku tak menjulurkan pakaian melebihi batasnya. Ayah sangat senang pergi ke masjid. Tak pernah absen ia ke sana. Tubuh tuanya itu mendadak kuat jika berjalan sebelum waktu Shubuh yang dingin, dan jika ia pergi ke masjid sebelum Maghrib, maka ia akan datang ke rumah setelah Isya. Dengan kaki-kaki tuanya. Hampir satu kilometer jauhnya.

Setelah lulus sekolah menengah atas di sebuah kota di Banjarmasin, aku merantau belajar menjadi mekanik handphone dan komputer di tempat pamanku, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah setahun di sana dan merasa punya skill, aku kembali ke Banjarmasin dengan tujuan bisa kuliah sambil membuka sebuah toko service handphone dan komputer. Aku mulai membeli alat-alat service, juga iklan di sana-sini. Mendadak, aku terkenal dengan julukan tukang handphone. Aku menjalankan bisnis ini pelan-pelan, dari pintu ke pintu. Mulai dari keluarga sampai orang-orang di sekitarku. Pelangganku pun bermacam-macam, Kawan. Dari tukang kambing, pedagang asongan, pengangguran, ustadz, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa. Kau tahu, Kawan, kenapa mereka senang aku memperbaiki telepon tangan mereka? Jawabannya adalah karena mereka bisa menentukan garansi semau mereka.

Namun hari itu, Kawan, hari itu adalah hari aku bersama ayah pergi ke sebuah majelis taklim, di mana setelah memberikan tausiyah, seorang ustadz menawarkan beasiswa bagi lulusan SMA yang ingin menghafal Al-Quran di Bogor. Ayah menunduk. Didengarnya iklan itu dengan seksama. Aku melihat matanya.

“Ayo kita pulang, Yar.”

Mata teduhnya tak bisa mengecohku. Sembilan belas tahun menjadi anaknya tentu aku mengerti maksudnya.

Ia ingin Aku lebih baik darinya. Bisa membaca Al-Quran dengan sempurna. Tak seperti dirinya yang terbata. Namun tak bisa ia meminta. Ia masih tak banyak bicara.

“Saya mendaftar beasiswa itu, Yah. Kalau diterima Saya langsung berangkat ke Bogor.”

Kulihat matanya membulat. Wajahnya berseri seketika.Walau tanpa kata, namun ada senyum di sana. Bagiku, melihatnya tersenyum adalah sebuah harta.


...

Dan akhirnya aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu. Walau aku tahu, aku sebenarnya tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik, setidaknya aku akan berusaha. Setidaknya aku akan belajar untuk membuatnya bangga. Aku ingin mengajarinya, membaca Al-Quran bersamanya. Walau aku sadar, Aku hanya seorang tukang service handphone. Tapi Kawan, bukankah Syaikh Albani yang nama beliau sering kujumpai di buku dan majalah ayahku juga pernah menjadi seorang mekanik jam?

Hari itu aku meninggalkannya merantau lagi ke pulau Jawa. Setelah mencium tangannya, aku memeluknya. Hangat sekali peluknya, seperti selimut bagi seorang gelandangan kota Malang yang kedinginan. Jam dua malam.

“Hati-hati, Yar.”

Ia masih tak banyak berkata. Namun pelukannya itu bermakna. Nasihatnya mengandung harapan besar. Harapan agar anaknya bernasib lebih baik darinya. Dan begitulah seorang ayah seharusnya.

...

Aku merantau, menuju pulau Jawa. Tak muluk aku ingin jadi orang yang hafal Al-Quran, bagiku bisa membaca Al-Quran dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Mungkin bisa menjadi imam di kampung saat tarawih dengan ayahku menjadi makmum saja, aku sudah sangat bahagia. Karena aku telah berjanji membuatnya bangga. Tapi karena Allah, tetap menjadi niat yang utama.

...

Musim-musim berganti, setiap tahun aku pulang sekali. Mengunjungi ayah yang kurindui setiap hari. Ayahku adalah anak keenam dari empat belas bersaudara. Semuanya kaya raya kecuali dia, semua sudah naik haji kecuali dia.

Kini, setelah ia tak lagi memiliki perkerjaan, harapannya untuk naik haji hilang pelan-pelan. Namun bukan ayah namanya jika kehilangan semangatnya, dengan sedikit uangnya ia ikut mencicil TV kabel berlangganan, yang mana dibayar urunan beberapa keluarga dalam satu perumahan. Dengan TV tabung tahun 1998, dicarinya channel Mekkah dan Madinah. Di saat ia tidak berada di masjid, maka acara dua stasiun TV Arab Saudi itulah teman kesukaannya. Ia senang memonton sambil bersandar pada sebuah kursi. Jika ia bosan dengan siaran di Mekkah, maka digantinya ke siaran stasiun Madinah, jika bosan lagi, maka akan kembali ke stasiun semula. Terus berpindah seperti itu. Layaknya metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tak singgah ke terminal lain. Jika si tukang kameramen mengambil gambar Masjid Nabawi, lalu menyorot karpet hijau antara mimbar dan makam Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka bibirnya bergerak, seolah ia sedang meminta, berharap agar doanya diterima. Lain lagi jika sang kameramen menyorot ka’bah, maka ayah bangun dari sandarannya, dipasangnya kacamatanya agar tak samar pandangannya, seolah ia membayangkan dirinya berada di sana lalu mengitari rumah tua itu dengan bahagianya. Dipandangnya ka’bah dan beberapa bagian Masjidil Harom dengan haru, lalu diliriknya wajahku, seolah berkata,

“Kau lihat, Yar.. itu prosesi umroh. Lihat Yar! Lihat Baitullah, itu kiblat kita. Tahukah engkau, Anakku, Ayah sangat ingin ke sana. Ayah ingin mencium hajar aswad, Ayah ingin berlari-lari kecil seperti orang di Shafa dan Marwa itu, Yar.. Lihat! ”

Aku kelu. Pria pendiam ini juga menyimpan cita-citanya dalam diam.

Yang membuat pilu di hatiku semakin ngilu adalah ketika melihatnya di masjid bergaul dengan teman-teman seumurannya yang semuanya juga sudah pernah menunaikan ibadah haji. Adalah adat di kampung kami bahwa sebuah pemuliaan panggil memanggil dengan sebutan “haji”. Teman-temannya kadang memanggil ayah dengan sebutan haji hanya untuk memuliakan ayah yang umurnya terlihat lebih tua dari mereka. Aku mafhum, ayah kelu di hatinya. Ingin ia seperti teman-temannya. Panggilan itu hanya fatamorgana untuknya. Seperti melihat air di aspal nun jauh, semu, tak ada apa-apa.

Pernah suatu hari ayah menolong seseorang di jalan. Orang itu berterima kasih sembari mendoakan,

“Terimakasih, Pak. Semoga Bapak cepat naik haji,” lirihnya.

Hari itu aku melihat ayahku tersenyum. Senyum itu, Kawan, senyum itu begitu dalam maknanya, untukku dan untuknya. Untuknya karena doa itu masuk ke hatinya lalu ia berharap agar di-ijabah Tuhan pemilik timur dan barat. Untukku, karena aku ingin sekali melihat ayahku tersenyum lagi, seperti hari ini, aku ingin sekali ayah pergi ke rumah Allah. Tuhan pemilik arah kiblat.

...

Di tengah perantauanku di Pulau Jawa. Setelah berganti-ganti pondok tahfizh beberapa kali, aku bermukim di Jogja. Hari itu, aku menelpon ayah, mengabari bahwa ada tes penerimaan mahasiswa baru Universitas Islam Madinah. Pria tua itu terperanjat. Lalu membanjiriku dengan kata. Bercerita ia, tiap detail katanya adalah semangat dan intonasinya berupa letupan-letupan motivasi. Ia laksana merapi yang menumpahkan seluruh larva. Mencurahkan apa yang ia rasa. Ia berjanji akan memberiku apapun yang kuperlukan untuk bisa ikut tes perguruan tinggi yang ia katakan sebagai universitas Islam terbaik di dunia. Aku pun terperanjat. Ganjil sekali, seolah itu bukan ayahku yang pendiam.

Dan yang paling membuatku haru adalah ketika ia berkata, “Jangan pikirkan masalah uang, Nak, jangan pikirkan. Ayah yang akan mencarikan. Insya Allah.”

Terisak ia.

Kau tahu, Kawan, ayahku sekarang hanya supir ambulan sebuah masjid, itu pun terkadang. Tak setiap hari ia dapat uang. Ia berjanji akan menyisipkan namaku dalam setiap doanya, di sepertiga malamnya. Setiap harinya.

...

Hari itu dua puluh dua tahun usiaku. Berada di pedalaman Jawa selepas salat Shubuh. Aku bersama dua orang temanku, Isnan dan Mukhroji. Kami baru saja mengikuti tes masuk Universitas Islam Madinah di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Kami memutuskan pulang setelah Shubuh. Nahas, pedalaman Ponorogo itu bukanlah Bogor yang angkot bisa lewat 24 jam. Kami menunggu sampai matahari meninggi. Berharap ada tumpangan transportasi.

Mukhroji cemas, ia harus secepatnya sampai ke Tegal karena ada suatu urusan keluarga. Berkali-kali pemuda tinggi ini menoleh ke sana-kemari berharap angkutan pedesaan segera datang. Sebentar duduk, ia bangkit berdiri, lalu menoleh lagi. Kawanku ini mungkin mendapat musykil yang berat dalam keluarganya. Lain lagi si Isnan, pemuda ramah asal Klaten ini ingin cepat pulang karena hampir setiap hari di sini ia memakan pecel khas Jawa Timur. Yang mana efek sampingnya adalah bosan, tak selera makan, dan sedikit mengganggu pencernaan. Pemuda terakhir, yaitu Aku, dengan alasan yang sama dengan Isnan. Karena kami membeli makanan secara patungan. Di pagi itu, kami menunggu dengan kumpulan rasa bosan.

Namun di ujung jalan, sayup-sayup bayangan kecil muncul, membesar dan kian dekat dengan tiga orang malang tadi. Bayangan itu menjadi nyata berupa sebuah mobil besar, gagah, dan nyaring bunyinya. Sebuah truk. Namun wajah dua temanku datar. Berbeda denganku yang sumringah tiap melihat sebuah truk. Kulambaikan tangan, girang aku. Berteriak-teriak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat ayunan di sebuah taman bermain.

Truk itu berhenti. Aku membuka pintu. Seorang pria di sana. Tak terlalu muda. Kutaksir empat puluhan umurnya. Pandangan matanya, seolah sudah tahu sebelumnya bahwa tiga orang di pinggir jalan itu hanya akan merepotkannya. Wajahnya sangar. Mimiknya kasar. Otot-otot badannya besar. Ia mirip tukang pukul seorang pejabat yang baru saja dilantik menjadi bupati.

Namun semua itu mencair ketika aku menatap matanya. Seolah ia melihat sesuatu di wajahku. Wajah yang seolah bicara. Berbicara bahwa ayahku adalah supir truk seperti dirinya. Dia pun seolah mengerti apa yang kubahasakan lewat wajah. Mungkin ada bahasa yang kurasa hanya aku dan para supir-supir truk saja yang memahaminya. Atau mungkin juga karena wajahku memelas dengan sempurna.

“Naiklah!” Ia langsung ramah. Entah kemana si tukang pukul bupati ini menaruh mimik seram yang diperagakannya sebelumnya.

Isnan dan Mukhroji naik dan duduk disamping sang supir. Hanya bisa untuk dua orang tempat duduknya. Aku? Ah, Kawan, aku mencari tempat favoritku. Menaiki bak truk itu. Bak itu hanya persegi panjang dari besi dengan sisa-sisa pasir berhamburan, melayang dan berputar terbawa angin. Aku duduk di sana. Hening. Bergoyang-goyang di jalan pedesaan yang bergelombang. Aku melamun. Di sana seolah ada lorong waktu yang membawaku jauh. Jauh ke masa lalu. Ke masa kecilku. Bersama ayahku di sebuah bak truk. Aku melihat ia bercerita. Aku mendengar intonasi khasnya. Aku mendengar suara kecilku tertawa. Aku merasa tubuh kecilku digendongnya. Wajah mudanya masih kuingat dalam pikiranku. Sesekali ia bercerita sambil mengusap rambut ikalku. Aku terbuai fantasi. Indah sekali.

Lorong waktu itu lalu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku sendiri di sini merindukannya. Dalam sebuah bak truk dengan sisa-sisa pasir di dalamnya. Mataku sakit diserang butiran-butiran pasir yang melayang dalam pusaran angin di bak. Tapi bukan itu alasanku untuk meneteskan air mata. Air itu jatuh karena aku rindu pada ayah. Rindu tak terkira.

...

Beberapa musim berganti dengan cepatnya. Banyak hal-hal yang tak pernah kita kira dan kita duga. Sebuah doa melesat ke langit dan dijawab oleh Tuhan Pemilik Semesta. Aku akhirnya diterima. Aku dapat beasiswa ke Madinah. Lagi-lagi aku merantau jauh meninggalkan seorang lelaki tua. Sebelum pergi aku memeluknya. Ia kembali menjadi dirinya yang tak banyak berkata. Tapi aku tahu, pelukan itu sudah mengatakan semuanya. Bahwa ia bangga. Ia bangga anaknya bisa ke kota impiannya. Kota yang sering ia ceritakan. Bahwa ia pun rela jika seandainya tak pernah bisa ke Madinah, asal anaknya bisa. Anaknya bisa lebih baik darinya. Bisa berangkat haji. Bisa salat dengan ganjaran ribuan kali. Lalu kudengar kata keluar dari mulutnya, pujian untuk Ilahi Robbi.

...

Hari ini, di mana aku berdiri, di kota yang mulia ini, adalah giliranku yang berusaha berbuat untuknya. Aku masuk dalam program persiapan bahasa, dua tahun lamanya, sebelum bisa kuliah di salah satu jurusan yang tersedia. Berada di sini adalah level terendah seorang mahasiswa. Aku di sini adalah gabungan antara kejahilan bahasa dan keberuntungan bisa berada di sini semakin lama.

Kau tahu, Kawan, Kau bisa saja merendahkanku karena hinanya aku di mata kalian, kita berbeda, Kawan. Aku masih memiliki ayah yang harus kubahagiakan. Tiap uang yang kuterima kusisihkan, tiap lantunan doa kuselipkan. Aku ingin pergi haji bersama ayahku. Aku ingin mengitari ka’bah bersamanya. Menuntunnya. Berlari kecil di sampingnya antara Shafa dan Marwa. Aku ingin membimbingnya. Aku ingin suatu hari ia melihatku berada di kampus kita, yang ia sangka terbaik di dunia. Aku ingin ia tahu kalau aku sudah bisa membaca Al-Quran di Masjid Nabawi. Aku ingin memanjatkan doa bersamanya di Raudhoh. Ingin kuceritakan ia tentang seluk beluk kota ini, kota impiannya. Seperti ia menceritakan padaku ketika aku kecil.

Kapankah itu? Entahlah, Kawan. Entahlah kapan. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi. Tersenyum saat pergi haji.


Ayahku adalah lelaki tua seperti biasanya. Lelaki sepertinya bisa kita jumpai di mana saja. Tapi bagiku, ayah adalah lelaki istimewa. Aku bertahan di sini menunggunya. Menunggu keajaiban Tuhan untuknya. Akan tibakah saatnya?

...

Ini adalah cerita sederhana sebuah kata. Kata yang kita semua memilikinya. Entah kita masih memilikinya, atau telah tiada.

‘Ayah.’
Nb: Cerita diangkat dari kisah nyata seorang mahasiswa Univ. Islam Madinah angkatan tahun 1433-1434 H. Tulisan ini berhasil memenangkan Lomba Karya Tulis Bebas dan terpilih sebagai Juara Satu dalam acara tahunan Pekilo (Pekan Kegiatan Ilmiah dan Olahraga) UIM 1434 H.
 
Sumber : Serambi Madinah
Sudah Membaca Al-Qur'an hari ini? Sudah Shalat Wajib pada waktunya ?